Minggu, 28 Maret 2021

Indikasi Korupsi Diangkatnya Pensiunan Jadi Sekdaprov Jatim

Indikasi Korupsi Diangkatnya Pensiunan Jadi Sekdaprov Jatim

Seri Perempuan Pemimpin Jatim] Napak Tilas Karier Politik Khofifah Indar  Parawansa

Pengangkatan Heru Tjahjono sebagai pelaksaan harian sekretaris daerah Provinsi ( Sekdaprov ) Jawa Timur, masih ramai dibicarakan banyak pemerhati pemerintahan. Salah satunya karena ketika diangkat jadi Sekdaprov Jatim Heru sudah berusia 60 tahun dan memasuki masa pensiun. Sabtu ( 27/03/2021 )

Akan tetapi kontroversi tentang Sekdaprov Jatim tidak hanya berhenti di usia saja, ada salah satu pegawai di jajaran Pemprov Jatim yang mewanti – wanti tidak disebutkan namanya menyebutkan

"Sekdaprov sangat dekat dengan gubernur Khofifah indarparawansah. Saya dengar Sekdaprov minta jabatannya di perpanjang hingga tahun 2022, agar kendali semua proyek masih didirinya. Pada anggaran 2020 – 2021 ini contohnya sudah berhembus kabar bahwa setiap proyek harus ada cash back 6 – 7% pada Sekdaprov."

" tidak hanya proyek, ada dugaan bantuan keuangan dari Pemprov kepada kabupaten/kota juga ada potongan 7% . Akan tetapi gubernur Jatim masih merasa nyaman dengan Sekdaprov Heru Tjahjono. Seakan – akan akan ada persiapan pada pilgub mendatang, sekenario pasangam khofifah – heru. " tegasnya sambil mewanti – wanti namanya dirahasiakan.

Sementara itu Khofifah ketika dihubungi melalui HP/WA nya 0811-8788-888 belum ada tanggapan, demikian juga ketika Sekretaris Pribadi Khofifah, Ibu Luluk dihubungi melalui selularnya 0812-8659-6652 juga belum memberikan jawaban


Rabu, 03 Maret 2021

Online Training : 1. General Affair (GA); 2. Presentation Skills; 3.HR for Non HR Manager

Value Consult Online Training
Creating value for your business
Website : www.valueconsulttraining.com
Click HERE to Unsubscribe from Our Newsletter
1 Day Online Training
Online Training : General Affair (GA) Professional
By Zoom, Jakarta, 17 Mar 2021
Time : 09:00 - 15:00
Early Bird : Rp. 1.500.000,-
 

DESKRIPSI

General Affair (GA) atau Divisi Umum adalah supporting unit yang bertujuan memberikan pelayanan-pelayanan kepada unit-unit kerja lain. Bahkan pada umumnya, GA melayani seluruh unit kerja di perusahaan (bersifat shared service) dalam hal administrasi dan pengelolaan pelayanan rutin kantor. Tugas seorang GA sungguh sangat kompleks karenanya biasa disebut "Job Matrix" yang mana kadangkala dalam satu waktu seorang GA dituntut menyelesaikan beberapa permasalahan.

Divisi General Affair merupakan tangan kanan operasional dari Departemen HRD, karena beberapa pekerjaannya sangat membantu kelancaran operasional dan merupakan tugas-tugas pelayanan di bidang SDM. Bahkan di beberapa perusahaan besar atau sedang (terutama bidang industri yang padat karya), GA juga menangani permasalahan Hubungan Industrial (Industrial Relation) baik untuk menyelesaikan masalah internal (kekaryawanan) maupun masalah dengan lingkungan sekitar lokasi pabrik/perusahaan (eksternal).

Tujuan : 

  • Memahami fungsi dan peran General Affairs di dalam organisasi dalam mencapai sasaran serta melaksanakan strategi organisasi
  • Memiliki pengetahuan lengkap untuk menyelesaikan tugas-tugas GA
  • Memahami pentingnya proses dan system dalam meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan oleh General Affairs
  • Mampu menganalisa kinerja General Affairs serta menetapkan wilayah mana saja yang memerlukan peningkatan agar sesuai dengan tujuan yang diharapkan
  • Mengerti cara menetapkan kompetensi standar yang dibutuhkan bagi para professional General Affairs
  • Memahami Key Performance Indicator GA Officer
  • Memahami metode Coaching & Conseling Implementation
  • Memahami konsep Time management
  • Memahami Komunikasi yang efektif di tempat kerja
  • Mampu melakukan negosisiasi dengan baik
  • Memahami konsep Disain lay out Office room
  • Memahami konsep Audit Internal
  • Mampu melakukan Continuous Improvement di tempat kerja

Target :

  • Bagian General Affair
  • Industrial Relation Manager atau Officer dan Staff
  • Manager Non HR yang berminat mempelajari GA & IR
  • Executive atau Praktisi Bisnis yang ingin tahu mengenai Industrial Relation Management
  • Karyawan lain yang berkaitan dengan dan /atau yang mengelola SDM (misal: General Affairs; Industrial Relation; Humas; dlsb)
  • Professional atau Individu yang berkaitan dengan pengelolaan SDM
  • General Affairs yang ingin meningkatkan kualitas kinerjanya

Outline : 

  • Peran dan fungsi General Affair
  • Dimensi Mutu GA & Konsep Audit internal
  • Struktur organisasi dan Skill Kompetensi General Affairs
  • Penyusunan Key Performance Indicator General Affair
  • Coaching & Conseling KPI General Affairs
  • Komunikasi efektif di tempat kerja
  • Menciptakan Tempat Kerja Excellence  ( 5S )
  • Time management Implementation General Affairs
  • Continuous Improvement General Affairs
  • Negotiation skill Fundamentals

Facilitator :

Surachman. ST.,MT

Adalah Profesional konsultan yang telah memiliki pengalaman sebagai praktisi industri lebih dari 22 tahun. Serta lebih dari 7  tahun sebagai konsultan manajemen, yang telah membantu banyak perusahaan Nasional dan Multinasional dalam program peningkatan daya saing perusahaan. Diharapkan dengan wawasan dan pengalaman yang luas dari para instruktur akan memberikan wawasan, inspirasi dan kompetensi baru bagi para peserta training sehingga nantinya dapat diterapkan diperusahaan tempatnya bekerja.

Surachman memiliki latar belakang Sarjana Teknik Mesin, dan Magister Teknik Industri, Sebagai lulusan AOTS Association for Overseas Technical Scholarship Japan. Yokohama Kenshu center pada bidang Quality Improvement

Berpengalaman pada dunia industri manufaktur, Jabatan terakhir adalah Dept Manager Quality Management dan Management Refresentative   pada sebuah perusahaan multinasional,

Berpengalaman dalam proses pengembangan, Managerial Skill, TPM  Quality Management System ISO 9001:2000, ISO TS 16949, Environment Management System 14000:2004, Business & Organization Excellence, Performance Management (Key Performance Indicator), Supplier Development, 5S, Quality innovation, dan Total Quality Management System.

Training Fee

Rp. 1.500.000 ,- (REG for 3 person/more; payment before 7 Mar 2021)
Rp. 1.750.000 ,- (Full fare)

2 Day Online Training
Online Training : Effective Presentation Skills
By Zoom, Jakarta, 17-18 Mar 2021
Time : 09:00 - 15:00
Early Bird : Rp. 3.000.000,-
 

Pelatihan Effective Presentation Skills mempelajari bagaimana para karyawan dengan posisi yang memerlukan ketrampilan presentasi efektif seperti middle level manager, sales, dll dan hal – hal lain terkait Presentation Skills.

Deskripsi

Ada satu hal yang sering dilupakan saat seorang karyawan dipromosikan. Umumnya saat promosi, hal yang dipersiapkan dengan baik adalah kompetensi teknis yang diperlukan, namun kemampuan bekomunikasi kurang begitu dipersiapkan. Padahal semakin tinggi posisi seseorang, kemampuan komunikasi yang dituntut semakin tinggi juga baik dalam hal konten yang lebih strategik maupun caranya yang lebih banyak unsur diplomatisnya. Salah satu bentuk komunikasi yang perlu dimilki oleh karyawan adalah melakukan presentasi efektif.

Presentasi efektif akan membuat seseorang mampu menyampaikan informasi secara sistematis, singkat dan jelas. Tujuannya beragam dari mulai yang sifatnya informatif (pesan) sampai dengan persuasif (pesan dan kesan). Presentasi efektif dimulai dari menyusun materi presentasinya, penggunaan media atau aplikasi program untuk membuat penampilan presentasi atraktif, cara menyampaikan presentasi, dan menanggapi audience presentasi. Umumnya seseorang belajar hal tersebut secara otodidak karena tuntutan keadaan atau pekerjaan.

Pelatihan Effective Presentation Skills ini akan memberikan pemahaman kepada para peserta mengenai keseluruhan presentasi efektif. Selain itu para peserta akan dilatih sampai mampu melakukan presentasi yang efektif dari mulai penyiapan materi pelatihan sampai kepada melakukan presentasi dan mempenngaruhi audience.

Untuk melengkapi pesertanya mengenai Pemahaman dan ketrampilan instruktur akan menyampaikan pelatihan secara :

  1. Practical karena dilengkapi dengan form yang langsung dapat digunakan dan contoh nyata kasus di pekerjaan
  2. Inspiring dimana cara penyampaian instruktur akan membuat peserta tergerak untuk menerapkannya di pekerjaan
  3. enjoyable dengan metode instruktur yang akan membuat pelatihan diselingi aktivitas yang sifatnya fun, sehingga peserta relaks dan antusias selama pelatihan

Sasaran Pelatihan

Setelah mengikuti Pelatihan Effective Presentation Skills ini, peserta diharapkan memiliki pengetahuan untuk:

  1. Merancang sebuah presentasi efektif
  2. Teknik penggunaan media presentasi yang berbasis aplikasi komputer
  3. Teknik menyampaikan presentasi efektif
  4. Trik mengatasi audience dengan beragam karakter

Target Peserta

Pelatihan Effective Presentation Skills ini ditujukan untuk para

  • Para karyawan dengan posisi yang memerlukan ketrampilan presentasi efektif seperti middle level manager, sales, dll. 
  • Siapa saja yang ingin meningkatkan wawasan dan ketrampilan presentasi efektif

Metode Pelatihan

Pelatihan Effective Presentation Skills dilaksanakan dengan metode

  • Enhanced Lecture
  • Group discussion
  • Exercise
  • Experiential simulation, such as : Role-play, games, and Skill practice

Outline Materi

Materi Pelatihan Effective Presentation Skills yang akan dibahas adalah

  1. Prinsip-prinsip komunikasi persuasive dan informatif
  2. Dinamika presentasi : an overview
  3. Managing Yourself : body language, handling stress
  4. Managing the Material of your presentation : shock opening, body, and closing
  5. Managing the Audience
  6. Latihan : Individual Presentation Skill

Testimoni

"Excellent"
"Sangat Exspert"
"Materi dan metode yg diberikan cukup menarik"
"Materi yang diberikan baik & mudah dipahami"
"Pelatihan menarik"
"Trainer menyampaikan dengan baik & dapat memberikan contoh & kasus relevan"
"Trainer menguasai materi & pendekatannya bagus ke peserta"
"Sudah cukup baik"
"sudah baik, sudah banyak prakteknya"
"Pembawaan materi Bagus"
"Cukup Aktraktif & komunikatif"

Facilitator

ADI WIJAKSANA, Drs.Psi, CH, CHT

Lebih  20 tahun pengalaman professional, dalam mengembangkan pendekatan membangun kepabilitas diri yang digunakan untuk membantu kliennya.

Berlatar belakang pendidikan Psikologi – Universitas Indonesia, mengawali karir sebagai praktisioner selama lebih 12 tahun di bidang Human Resource. Adi mempunyai keterampilan yang baik dalam pengembangan HRD yang dimulai dengan proses identifikasi kebutuhan organisasi hingga mengevaluasi program pengembangan karyawan.  Kemudian menggeluti dunia konsultansi hingga saat ini untuk memberikan pengalamannya dalam membantu pengembangan karyawan di klien.

Sebagai Konsultan HR, banyak membantu klien dari berbagai latar belakang industri dan jasa baik perusahaan nasional maupun multinational, dengan melakukan proses perbaikan dan penguatan organisasi dan performance individu melalui kegiatan konsultansi dan program training.

Klien-Klien yang telah dibantu, antara lain : Bank Mandiri, BII-Maybank, BCA Learning Center, Yamaha Part Manufacturing Indonesia, MPM-Rent, Suzuki Finance, U-Finance, Changsin Indonesia, Harsono Strategic Consulting, Gramedia Printing, Sayap Mas Utama, Minamas, Sharprindo Dinamika Prima, MSIG, Sanofi-Aventis Indonesia, BPPT, Icon Plus, dll.

Training Fee

Rp. 3.000.000 ,- (REG for 3 person/more; payment before 7 Mar 2021)
Rp. 3.500.000 ,- (Full fare)

2 Day Online Training
Online Training : HR for Non HR Manager in Competitive Business Organization
By Zoom, Jakarta, 17-18 Mar 2021
Time : 09:00 - 15:00
Early Bird : Rp. 3.000.000,-
 

Every Manager are HR Manager. Hal tersebut tidak bisa dihindari karena hal yang penting, kalau tidak bisa dikatakan yang terpenting, ialah memanaj Sumber Daya Manusia. Dalam Manajemen HR modern, tanggung jawab memanaj manusia bukan hanya tanggung jawab Bagian HR, melainkan juga tanggung jawab masing-masing bagian, mengingat bagian masing-masing lah yang paling dekat sehingga seharusnya paling mengenal anggota timnya.

PURPOSE & GOAL

  • Memahami fungsi Manajemen HR di masing-masing bagian.
  • Memahami Dasar-Dasar Rekrutmen, Pengembangan Kompetensi, OD, PA, Talent Management, Personnel Administration, Remuneration, Termination, dan Labor Law.

GOAL

Peserta memahami prinsip-prinsip Manajemen HR dan mampu menerapkannya di bagian masing-masing.

CONTENT

Day 1 & Day 2 (09.00 - 15.00 WIB)

  • Memahami Fungsi Manajemen HR.
  • Menyelaraskan visi misi perusahaan ke dalam praktek HR di bagian masing-masing
  • Memahami Dasar-Dasar Rekrutmen
  • Memahami cara dan fungsi Training dan Pengembangan
  • Memahami Manajemen  OD
  • Memahami Performance Management
  • Memahami Talent Management
  • Personnel Administration
  • Memahami Manajemen Remuneration
  • Memahami Termination
  • Corporate Culture & Values
  • Memahami penanganan Employee Relation & Labor Union
  • indisciplinary Action
  • Labor Law & Code of Conduct

WHO SHOULD ATTEND

All management leader who manage team member

FACILITATOR

Drs. Agus Mauludi Psi. Psikolog

Memiliki pengalaman hampir 20 tahun sebagai praktisi dalam memimpin Bagian Human Resources di Astra Group, Napan Group, dan salah satu perusahaan energi di Indonesia, Senior Konsultan di salah satu Konsultan Manajemen Internasional, dan Senior Trainer di Value Consult. Beberapa klien yang pernah ditangani, antara lain: Adaro Indonesia, Pertamina Persero, Telkomsel, Excelkomindo, Jamsostek, Freeport, Pemerintah Brunei, Pemerintah Timor Leste, dan lain-lain.

Agus Mauludi berlatar pendidikan sebagai Psikolog dari Universitas Indonesia. Beberapa topik yang biasa dibawakan dengan sangat baik, antara lain: Leadership, People Management, HR Management, Communication, Negotiation, Training for Trainer, Corporate Culture, dan training-training soft skill lain.

Agus Mauludi perna menjadi saksi ahli Psikologi dalam persidangan kasus pembunuhan yang menjadi sorotan dunia di Indonesia.

Training Fee

Rp. 3.000.000 ,- (REG for 3 person/more; payment before 7 Mar 2021)
Rp. 3.500.000 ,- (Full fare)


Training Series :

Click the list below to subscribe specific training series only, we will send as individual email :

  1. School of Training
  2. HR Management Series
  3. Managerial Skills / Soft Skills Series
  4. Production / Operation Management Series
  5. Marketing Management Series
  6. Financial Management Series
  7. Legal Series
  8. IT & Telecomunication Series
  9. All Series

 

 

Contact Us

ILP Center Building 2nd Floor, Suite 219 Jl. Raya Pasar Minggu 39 A Jakarta 12780

Contact Person :
Ms. Ori & Ms. Riri

Social Media

 

More Training in 2021
Tanggal Topik Trainer Early Bird Status
15-17 Mar 2021 ONLINE TRAINING : PROGRAM SERTIFIKASI BNSP - MANAGER HR Drs. Jack Alenzo, MM. MH Rp. 6.800.000 Confirm Running
23 Mar 2021 Online Training : Risk Management Drs. Jack Alenzo, MM. MH Rp. 1.500.000 Confirm Running
10 Mar 2021 Online Training : Effective Delegation, Monitoring & Feedback G. Suardhika, MBA. Rp. 1.500.000 Confirm Running
9-10 Mar 2021 Online Training : Telemarketing Skills Silvia Agustina S Rp. 3.000.000 Confirm Running
8-9 Mar 2021 Online Training : Time Management dan Produktivitas Diri G. Suardhika, MBA. Rp. 3.000.000 Confirm Running
8-9 Mar 2021 Online Training : Cashflow & Treasury Management Ghani Basyar, SE, MM. Rp. 3.000.000 Confirm Running
9-10 Mar 2021 Batasan Hak, Kewajiban Dan Kewenangan Direksi, Komisaris Dan Pemegang Saham Perseroan Terbatas Rieke Savitri, SH. Rp. 2.500.000 Confirm Running
5 Mar 2021 Online Training : Aplikasi Dalam Praktek Pkwt, Outsourcing dan Waktu Kerja (Pasca Berlakunya PP No. 35 Tahun 2021) Andari Yurikosari & Reytman Aruan Rp. 750.000 Confirm Running
17-18 Mar 2021 Online Training : HR for Non HR Manager in Competitive Business Organization Drs. Agus Mauludi Psi. Psikolog Rp. 3.000.000 Almost Running
29 Mar 2021 Online Training : Effective Sales Skills Mr. Agus Gunawan Rp. 1.500.000 Almost Running
15 Mar 2021 Online Training : 5s Safety & Visual Management Surachman. ST.,MT Rp. 1.500.000 Almost Running
3 Mar 2021 Online Training : Business Communication Mr. Agus Gunawan Rp. 1.750.000 Almost Running
1 Apr 2021 Online Training : Effective Finance for non Finance Daniel Saputro, MM., MBA. Rp. 1.500.000 Almost Running
17 Mar 2021 Online Training : General Affair (GA) Professional Surachman. ST.,MT Rp. 1.500.000 Almost Running
8 Mar 2021 Online Training : Marketing Strategy During Pandemic And New Normal Mr. Agus Gunawan Rp. 1.500.000 Almost Running
©Copyright 2021 Value Consult, Training & People Development Consultant

Rabu, 24 Februari 2021

Bantuan Pangan Non Tunai Bermasalah, Mahasiswa Pandeglang Demo Kejaksaan Negeri

Bantuan Pangan Non Tunai Bermasalah, Mahasiswa Pandeglang Demo Kejaksaan Negeri

Buntut BPNT Bermasalah, Aliansi Mahasiswa Pandeglang Aksi di Kantor  Kejaksaan Negeri

Puluhan massa yang terdiri dari Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Indonesia ( GPMI ), Jaringan Pemuda Mahasiswa Indonesia ( JPMI ), Assosiasi Gerakan Mahasiswa Indonesia ( AGMI ), Himpunan Aksi Mahasiswa dan Pemuda (HAMPA) yaang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Pandeglang ( AMP ) Kabupaten Pandeglang geruduk Kejaksaan Negeri Pandeglang soal carut marutnya supplier program Bantuan Non Pangan Tunai (BNPT) yang diangap memangkas hak masyarakat penerima manfaat. (Rab/24/02)

Pimpinan Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Indonesia (GPMI) Kiki Badhrul Hakiki mengutuk keras perusahaan supplier Persekutuan Komanditer (CV) Kenzi One Indonesia karena diangap telah memangkas hak masyarakat dengan memberikan komiditas pangan yang tidak layak dikonsumsi.

"CV. Kenzi One Indonesia sebagai supplier program bantuan pangan telah cacat. Perusahaan tersebut diketahui menyupplier sejumlah telur busuk bagi masyarakat penerima manfaat program bantuan pangan di Pandeglang",- ucapnya Rabu (24/2/2021)

Kiki Badhrul Hakiki dalam orasinya meminta Kejaksaan Negeri untuk bertindak tegas terhadap Perusahaan supplier yang menghisap masyarakat seperti dengan memberikan komoditas pangan yang cacat dan tidak layak konsumsi,

"Masyarakat kita ini sudah miskin jangan lagi di hisap. Oleh sebab itu kedatangan kami kali ini meminta kepada Kejari Kab. Pandeglang tegas terhadap perusahaan lintah darat yang menghisap masyarakat. Masyarakat kita ini sudah miskin jangan lagi di hisap",-pungkasnya,

Pria biasa disapa Kiki mengungkapkan, Pemerintah Daerah (Pemda) harus berani membersihkan mafia penghisap Prorgam BPNT/ BSP di Kab. Pandeglang. Ada mafia yang bermain pada program bantuan pangan di Kab. Pandeglang sehingga masalah pada program ini masih saja terus bergejolak.

Kiki Badhrul selaku Koordinator Aksi Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Pandeglang (AMP) mengatakan, Membersihkan mafia bantuan pangan di Kab. Pandeglang perlu komitmen bersama Pemda dengan Aparat Penegak Hukum (APH).

Menurutnya, Irna-Tanto Bupati Pandeglang selaku Kepala Daerah yang baru dilantik Pekan lalu harus juga melihat persoalan mafia pada bantuan pangan yang sangat merugikan masyarakat. Membersihkan mafia bantuan pangan harus jadi ajang pembuktian kepada masyarakat Kab. Pandeglang bahwa Irna Narulita-Tanto selaku Kepala Daerah sangat konsen kepada kesejahteraan masyarakat sesuai dengan janji pilkada Desember lalu.

Dalam Aksi serupa, Hidayat Presidium Jaringan Pemuda Mahasiswa Indonesia (JPMI) mendesak kepada DPRD Kab. Pandeglang Komisi IV (empat) dan Dinas Sosial Kab. Pandeglang untuk segera melakukan pemanggilang kepada Direktur CV Kenzi One Indonesia guna memberikan efek jera terhadap perusahaan yang menghisap masyarakat.

"Persoalan yang terjadi harus segera disikapi oleh seluruh pihak terkait. supplier yang memotong hak masyarakat harus segera diberikan sanksi tegas",-Teriaknya dalam orasi,

Hidayat menegaskan kami menunggu pemanggilan oleh Pemda pada CV. Kenzi One Indonesia dalam satu minggu ini. Apabila dalam satu minggu tidak ada pemanggilan pada pihak CV. Kenzi One Indonesia oleh Pemda Kab. Pandeglang. Maka jangan salahkan masyarakat apabila akan ada badai manusia mengepung alun-alun Kabupaten Pandeglang.

"Masyarakat Pandeglang sudah cerdas, mereka sadar haknya dipotong oleh supplier, oleh karena itu jangan sampai amarah masyarakat dipancing dengan sikap pemerintah yang acuh terhadap persoalan ini",-Tutup Hidayat.

Humas AMP
081317102220

Selasa, 16 Februari 2021

9 Milyar Dana Pembangunan Museum SBY Bukan APBD Pacitan Tapi Dari Gubernur Khofifah Sumbernya APBD Jatim

9 Milyar Dana Pembangunan Museum SBY Bukan APBD Pacitan Tapi Dari Gubernur Khofifah Sumbernya  APBD Jatim


Bupati Pacitan Indartato membantah dana Rp 9 miliar untuk Yudhyono Foundation bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (Jatim).

Menurut dia, dana tersebut merupakan dukungan dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yakni pemerintah
provinsi (pemprov) Jatim untuk pembangunan museum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kabupaten Pacitan.

"Bukan dari APBD Pacitan. Itu dari pemeritah provinsi yang memberikan bantuan namanya bantuan keuangan khusus (BKK) kepada pemerintah daerah untuk pembangunan museum Pak SBY," katanya pada salah satu siaran TV Nasional

Indartato menerangkan, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Pacitan awalnya mengusulkan dana bantuan untuk pembangunan Museum SBY.

Kemudian dana yang disebut sebagai bantuan keuangan khusus (BKK) itu diterima oleh Pemda Kabupaten Pacitan pada 9 Desember 2020 lalu. Dana tersebut selanjutnya dimasukkan dalam APBD Kabupaten Pacitan Tahun 2021.

Terkait dugaan adanya muatan politis dalam pencarian dana hibah tersebut, Indartato tegas membantah. Tujuannya, kata dia, semata untuk kesejahteraan masyarakat Pacitan.

Tampaknya apa yang dikatakan oleh Bupati Pacitan tersebut tidaklah berlbihan. Semangat Khofifah membangun museum SBY memakai dana APBD provinsi Jatim ini ditunjukkan dengan kedatangan Gubernur Jatim memantau langsung pembangunan museum ini ke Pacitan sebagaimana ditunjukkan status twitter pribadinya @KhofifahIP

Pada akun resminya https://twitter.com/KhofifahIP/status/1317787916127498240 Khofifah menulis status: "Melihat progres pembangunan Museum SBY - Ani (Pepo & Memo) di Jalan Lingkar Selatan (JLS), Pacitan. InsyaAllah, museum dan galeri seni sekitar 7.500 meter persegi ini selesai Maret 2021 mendatang & akan dibuka bagi masyarakat umum pada tahun 2022. Mohon do'a semoga lancar sukses"

Sementara itu Khofifah ketika dihubungi melalui HP/WA nya 0811-8788-888 belum ada tanggapan, demikian juga ketika Sekretaris Pribadi Khofifah, Ibu Luluk dihubungi melalui selularnya 0812-8659-6652 juga belum memberikan jawaban

Sebagaimana diketahui, bahwa sebelumnya viral kabar bahwa Pemerintah Kabupaten Pacitan telah memberi dana hibah sebesar Rp 9 miliar yang masuk ke Yudhoyono Foundation, yayasan yang didirikan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Kabar tersebut bahkan heboh di media sosial. Yayasan Yudhoyono Foundation dikatakan mendapatkan hibah sebesar Rp 9 miliar anggaran APBD Kabupaten Pacitan Tahun Anggaran 2021.



Minggu, 07 Februari 2021

Gak Kapok, Anak Rhoma Irama Lagi-Lagi Ditangkap Karena Narkoba

Gak Kapok, Anak Rhoma Irama Lagi-Lagi Ditangkap Karena Narkoba

Inline image

Kabar mengejutkan kembali datang dari dunia selebritas Tanah Air. Pedangdut Ridho Rhoma kembali ditangkap polisi terkait kasus narkoba.

"Benar,' kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus saat dikonfirmasi, Minggu (7/2/2021).

Informasi yang diterima detikcom Ridho Rhoma ditangkap oleh jajaran Sat Narkoba Polres Pelabuhan Tanjung Priok. Ridho ditangkap di sebuah apartemen di pada Kamis (4/2).

Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Ahrie Sonta juga membenarkan soal penangkapan Ridho Rhoma ini saat dihubungi.

"Betul. Nanti lengkapnya bisa ditanyakan ke Polda Metro saja," ujarnya.

Ini bukan kali pertama anak pedangdut Rhoma Irama ini terjerat kasus narkoba. Ridho Rhoma pernah ditangkap polisi pada 25 Maret 2017 lalu. Polisi saat itu menyita barang bukti sabu seberat 0,7 gram berikut alat isapnya.



Sabtu, 06 Februari 2021

SATYAGRAHA: WARTAWAN YANG TERLUPAKAN

SATYAGRAHA: WARTAWAN YANG TERLUPAKAN
Oleh: Imron Hasibuan

Menjelang Hari Pers Nasional, saya memposting ulang tulisan enam tahun lalu tentang seorang wartawan yang seakan terlupakan dalam catatan sejarah pers negeri ini.
-------------------------------------

Lelaki tua itu berdiri di tengah pintu rumah sederhana, di sebuah perumahan, di pingggir Kota Bekasi. Perawakannya sedang, agak membungkuk. Sebuah kacamata tebal menempel di wajahnya yang mengguratkan keramahan. "Perkenalkan, saya Satyagraha. Ayo, silakan masuk," katanya, sambil bersalaman.

Sesaat kemudian ia pun mulai berkisah. Menjelang Pemilu 1955, pemilihan umum pertama setelah kemerdekan Indonesia, partai-partai politik bersiap, terutama dalam melakukan agitasi- propaganda. Hampir semua partai besar di masa itu telah memiliki surat-kabar yang mendukung. Masjumi, misalnya, punya koran Abadi. PSI didukung Pedoman, yang dipimpin wartawan kawakan Rosihan Anwar. PKI punya organ resmi Harian Rakyat. Bahkan PSII (Partai Syarekat Islam Indonesia) menerbitkan Pemandangan.

Hanya Partai Nasional Indonesia (PNI) yang belum punya media resmi. Harian Merdeka, yang dipimpin BM Diah, hanya menyatakan sebagai simpatisan. Kebijakan redaksionalnya tidak harus selalu sejalan dengan garis PNI. "Melihat kondisi ini, Pak Sidik Djojosukarto, yang saat itu menjabat Ketua Umum PNI, memanggil beberapa pengurus DPP PNI untuk segera menerbitkan sebuah surat-kabar yang merupakan organ partai. Tujuannya untuk mengantisipasi pemilu yang akan segera digelar," kata Satyagraha.

Dalam pertemuan itu diputuskan bahwa akan segera diterbitkan koran harian dengan nama Suluh Indonesia. Sebagai pemimpin umum ditunjuk M. Tabrani, salah seorang tokoh senior PNI yang juga digulis (orang yang pernah dibuang pemerintah kolonial Belanda ke Digul, daerah terpencil di Papua). Sedangkan pemimpin redaksi dijabat Sajuti Melik, yang juga digulis.  "Saya diminta Pak Sajuti Melik menjadi redaktur pertama. Dalam praktiknya, saya merangkap sebagai reporter, korektor, dan lay-outer. Pak Sajuti, sebagai pemimpin redaksi, hanya menulis Tajuk. Saya hanya dibantu seorang wartawan bernama Hasan Gayo, yang pernah bekerja di surat kabar Indonesia Raya." Jadi, di masa-masa awal penerbitannya, Suluh Indonesia hanya punya awak redaksi tiga orang: Sajuti Melik, Satyagraha, dan Hasan Gayo.    
 
Setelah persiapan beberapa bulan terbitlah Suluh Indonesia. Edisi perdana Suluh Indonesia, yang kemudian dikenal dengan nama singkatannya, Sulindo, terbit 1 Oktober 1953. "Edisi perdana Sulindo itu dicetak di percetakan milik Sutan Takdir Alisyahbana, di Jalan Ketapang. Hanya empat halaman hitam putih, oplag sekitar 75 ribu eksemplar. Dari sore sampai tengah malam, saya dan Hasan Gayo mempersiapkan lay-outnya di percetakan. Pak Sajuti sempat mengecek ke percetakan, dan bilang: 'lay-outnya kok seperti susunan batu bata'. Saya jawab: yang penting terbit dulu, Pak. Ha..ha…"

Sejak itu, Sulindo terbit setiap hari, Senin sampai Sabtu. Respon masyarakat cukup bagus. Sebagian koran  didistribusi lewat cabang-cabang PNI di daerah, sebagian lagi lewat agen-agen surat-kabar.
Sajuti Melik menjadi pemimpin redaksi hingga Pemilu 1955 usai. Suasana kampanye pemilu, membuat pemasaran Sulindo melonjak. Oplag pun digenjot hingga 150 ribu eksemplar. Kata Satyagraha: "Di masa-masa kampanye pemilu, Suluh Indonesia secara jelas menunjukkan warnanya sebagai koran PNI. Semua kebijakan dan kegiatan partai disiarkan. Bahkan, lambang PNI, banteng segitiga, dipasang di halaman satu."  Hasilnya sukses besar: PNI keluar sebagai pemenang Pemilu 1955.

Tak lama setelah pemilu, Sajuti Melik digantikan M. Supardi. Tokoh terakhir ini sebelumnya menerbitkan surat-kabar Nasional, yang juga berhaluan nasionalis. Tapi, hanya terbit setahun, dan kemudian bangkrut. Saat Supardi pindah ke Sulindo, ia membawa awak redaksinya, ada sepuluh orang. Satyagraha tetap menjadi redaktur pertama.
Tak sampai setahun kemudian, Supardi diganti lagi oleh Manai Sophian, yang saat itu juga menjabat sebagai Ketua Departemen Agitasi dan Proganda DPP PNI. Dibawah kepemimpinan Manai Sophian, Sulindo hampir sepenuhnya menjadi corong partai. Satyagraha masih menjadi redaktur pertama.

Dari Manai Sophian, pemimpin redaksi Sulindo beralih kepada Jusuf Muda Dalam. Satyagraha sempat memprotes pengangkatan Jusuf Muda Dalam kepada Sidik Djojosukarto. "Banyak yang tahu bahwa Jusuf Muda Dalam pernah menjadi anggota aktif PKI. Malah dia menduduki posisi penting di PKI, sebagai anggota tim verifikasi yang menentukan penempatan orang-orang di jabatan penting di PKI. Tapi, Pak Sidik bilang, dia sudah 'tobat', dan kini masuk PNI." Maka Satyagraha pun terpaksa menerima keputusan itu. Posisinya di Sulindo tetap sebagai redaktur pertama.

Di awal tahun 1957, Mohamad Isnaeni-- tokoh muda PNI yang sudah duduk sebagai anggota parlemen-- diangkat menjadi pemimpin redaksi Sulindo. Bersamaan dengan itu, Satyagraha diangkat menjadi wakil pemimpin redaksi. Selama gonta-ganti pemimpin redaksi, Satyagraha lah yang menjadi motor penggerak redaksi Sulindo sehari-hari. Tentunya dibantu para wartawan yang jumlahnya sudah cukup banyak.

Selain mengelola Sulindo, Satyagraha juga ditunjuk sebagai pemimpin redaksi Berita Minggu, koran yang hanya terbit setiap hari Minggu. Kantor redaksi dan sebagian awak redaksinya sama dengan Sulindo. Maka, mulailah Satyagraha mengubah Berita Minggu, menjadi koran yang mengangkat berita-berita populer yang terjadi ditengah masyarakat, dengan gaya penulisan populer pula.

"Dengan gaya populer itu, Berita Minggu sangat digemari masyarakat. Oplagnya pernah mencapai 350.000 eksemplar. Sampai-sampai kami kewalahan memenuhi permintaan agen-agen koran. Dengan dana dari Berita Minggu itulah, kami bisa menopang penerbitan Sulindo setiap hari. Bahkan, belakangan bisa mendirikan percetakan sendiri di Kemayoran," kenang Satyagraha.

Pemberitaan Suluh Indonesia dan Berita Minggu tidak selalu sejalan dengan kemauan para pemimpin PNI. Suatu kali, misalnya, Satyagraha ditegur Hardi, SH, Wakil Ketua Umum PNI, karena memuat pendapatnya di halaman dua Sulindo. Sementara pada berita headline di halaman depan, Sulindo memuat pendapat Lucien Pahala, tokoh Presidium GMNI, tentang masalah yang sama dikemukakan Hardi. "Menurut penilaian saya, pendapat Lucien Pahala yang lebih berbobot dan mendekati kebenaran. Karena itu, saya tampilkan di tulisan utama."

Suatu hari, Satyagraha diajak Sajuti Melik ke Istana Bogor, untuk bertemu Bung Karno. Itulah pertemuan pertama Satyagraha dengan Bung Karno. Saat bertemu, Bung Karno langsung bertanya: "Kamu siapa?"

"Satyagraha, Bung. Wartawan Suluh Indonesia dan Berita Minggu."

"Oh… Aku sering baca tulisan kamu di Sulindo, juga Berita Minggu. Apik…apik…," kata Bung Karno lagi.

Lalu, percakapan berlangsung akrab. Bung Karno menanyakan kota asal Satyagraha, yang langsung dijawab: "Blitar, Bung." Mendengar itu, Bung Karno bertanya lebih lanjut tentang keluarganya. Ketika Satyagraha menyebut nama ibunya, Bung Karno langsung menyela: "Oh… kamu anaknya Tuti. Saya kenal keluarga ibu kamu."

Di akhir pembicaraan, Bung Karno bilang: "Mulai besok, dari Suluh Indonesia kamu yang meliput di istana ya."

Sejak itu, Satyagraha pun resmi menjadi "wartawan istana", yang meliput berbagai kegiatan Presiden Soekarno, terutama lawatan ke luar negeri. Ia, misalnya, pernah mengikuti lawatan Bung Karno ke Amerika Serikat, September 1960, untuk berpidato di depan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pidato berjudul "To Build The World a New" itu mendapat sambutan meriah dari peserta sidang.  "Sebagai bangsa Indonesia, saya bangga sekali melihat Bung Karno berpidato berapi-api di depan diplomat seluruh dunia. Apalagi, setelah pidato Bung Karno usai, tepuk-tangan bergemuruh di gedung PBB itu."

Dalam lawatan yang sama, Bung Karno juga menemui Presiden John F. Kennedy. Ketika itu, Bung Karno sedang gencar-gencarnya menggelorakan kampanye pembebasan Irian Barat. "Dengan pintarnya Bung Karno memainkan diplomasi, sehingga Kennedy setuju dilakukan referendum di Irian Barat. Itu dilakukan Bung Karno dengan pendekatan pribadi kepada John Kennedy dan keluarganya."

Dari Amerika Serikat, Bung Karno mengunjungi Kuba. Ketika itu, Fidel Castro baru beberapa tahun berhasil memimpin revolusi yang menjatuhkan rezim Batista. Dalam sebuah pertemuan yang sudah dijadwalkan, Castro terlambat hampir tiga jam. "Begitu bertemu, Bung Karno langsung memarahi Castro. Tapi, momen ini sengaja tidak diekspose media-massa, atas permintaan Bung Karno sendiri," ujar Satyagraha. Yang muncul di media-massa adalah bagaimana Castro meminta nasehat dari Bung Karno tentang bagaimana membangun kemandirian bangsanya.

Saat di dalam negeri, Bung Karno juga akrab dengan para wartawan. Setiap Rabu pagi, Satyagraha dan beberapa "wartawan istana" lain biasa sarapan pagi bersama Bung Karno, di beranda belakang Istana Negara. "Nah, waktu sarapan bersama itulah, para wartawan memberikan masukan tentang berbagai soal-soal kenegaraan kepada Bung Karno. Kadang kami juga berdebat dengan Bung Karno tentang masalah-masalah politik. Menurut pengalaman saya, dalam pertemuan-pertemuan terbatas seperti itu Bung Karno mau menerima kritik tajam sekalipun, bahkan yang menyangkut kehidupan pribadinya. Tapi, kalau dikritik di depan publik ataupun di media-massa, beliau bisa marah."

Meski begitu, kadang pemberitaan Sulindo, membuat Bung Karno tak berkenan. Suatu hari, Satyagraha dipanggil Bung Karno karena tajuk rencana Sulindo yang ditulisnya mengkritik "aksi sepihak" yang marak dilakukan aktivis PKI di daerah-daerah. "Kamu sekarang sudah komunistofobia," semprot Bung Karno.

Tapi, setelah Satyagraha menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di lapangan, Bung Karno bisa menerima. Di awal tahun 1960-an itu PNI memang tengah bertarung sengit dengan PKI. Agitasi dan aksi-aksi para aktivis PKI di daerah-daerah, terutama di pedesaan Jawa, banyak membawa korban para lurah dan camat, yang umumnya menjadi anggota PNI.

Dilain waktu, Sulindo dan Berita Minggu memuat tulisan SK Trimurti berjudul "Kambing Tua Makan Rumput Muda". Isinya mengkritik Bung Karno yang menikah lagi dengan Ibu Hartini. Keesokan harinya, Satyagraha dipanggil Kolonel Sugandi, ajudan Bung Karno. "Saya dimarahi, dan diberi surat tidak boleh datang ke Istana Negara selama tiga bulan. Surat itu ditandatangani Kolonel Sugandi sendiri."

Satyagraha menerima larangan tersebut. Selama tiga bulan ia tidak ke Istana Negara. Setelah tiga bulan berlalu, barulah ia meliput lagi ke istana. Saat ketemu, Bung Karno menegur: "Hei Satya, kemana saja kamu, kok lama nggak kelihatan."

"Lo, kan saya dilarang Pak Gandi masuk istana," jawab Satyagraha.

Mendengar itu, Bung Karno langsung memanggil Sugandi. Yang dipanggil membenarkan, tapi tidak menjelaskan mengapa Satyagraha dilarang masuk istana. "Jadi, sebenarnya Bung Karno tidak pernah membaca tulisan Bu SK Trimurti itu. Larangan itu cuma bikin-bikinan Kolonel Sugandi saja."

Dalam Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI),Februari 1959, di Lembang, Bandung, Satyagraha terpilih sebagai Sekretaris Jenderal. Ia masih dipercaya menduduki jabatan tersebut dalam Kongres PWI berikutnya di Makassar, Maret 1961, dan di Jakarta, Agustus 1963-- sampai saat Gerakan 30 September 1965 meletus. Selama tiga periode menjadi sekjen, ia mengalami tiga orang Ketua Umum PWI.

Pertengahan tahun 1965, Satyagraha dipanggil Ali Sastroamidjojo, Ketua Umum PNI masa itu. "Saya diperintahkan menjadi wakil ketua panitia peringatan ulang tahun PNI yang jatuh beberapa bulan lagi. Ketua panitianya Bung Surachman, Sekjen PNI. Pak Ali berpesan acara itu harus lebih semarak daripada acara ulang tahun PKI, setahun sebelumnya. Massa yang hadir juga harus lebih banyak dari massa PKI."

Maka, Satyagraha bersama Surachman pun bekerja keras menggalang massa untuk hadir di acara ulang tahun PNI. Lokasi acaranya sudah ditetapkan: Stadiun Gelora Bung Karno. Satyagraha kebagian menggalang lewat media-massa, terutama Sulindo dan Berita Minggu. Sedangkan Surachman dan pimpinan organ PNI, menggalang massa di cabang-cabang PNI di Jawa. Ketika hari H tiba, 4 Juli 1965, massa yang hadir di GBK membludak, sekitar 150.000 orang. Ketika Bung Karno naik ke podium untuk berpidato, kata pertama yang diucapkannya: "Ckkk…ckkk…Bukan main!"

Tapi, naik-turun jalan kehidupan memang tak bisa diduga. Di awal tahun 1965, Satyagraha ditunjuk DPP PNI sebagai pemimpin redaksi Sulindo, menggantikan Mohamad Isnaeni. Saat itu, ia juga masih menjabat Sekjen PWI. Usianya 34 tahun. Satyagraha ditengah puncak karirnya sebagai wartawan.

Tiba-tiba terjadi Peristiwa 30 September 1965, yang menjadi titik balik kehidupannya. Terhitung 3 Oktober, Sulindo dan Berita Minggu, serta sejumlah surat-kabar lainnya, dilarang terbit oleh tentara. Edisi terakhir Sulindo terbit tanggal 2 Oktober 1965.

Dua minggu kemudian, persisnya tanggal 18 Oktober, Satyagraha ditangkap aparat keamanan. "Saat itu saya dan John Lumingkewas (dari Presidium GMNI) mau menjemput Karim DP di tempat persembunyiannya di Bandung. Begitu sampai di tempat itu, ternyata sejumlah tentara sudah ada disana. Akibatnya, saya dan John juga ikut ditangkap." John Lumingkewas adalah Presidium GMNI, sedangkan Karim DP ketika itu menjabat Ketua Umum PWI. Karim DP sempat buron karena namanya tercantum dalam Dewan Revolusi, yang diumumkan Letkol Untung—komandan G 30 S.

Mereka—Satyagraha, Karim DP, dan John Lumingkewas-- pun dibawa dengan jeep tentara ke Jakarta. "John diturunkan di tengah jalan. Saya dan Karim langsung di bawa ke penjara Salemba. Saat itu sudah menjelang tengah malam. Kami ditempatkan di Blok N, masing-masing di satu sel. Karena kelelahan, saya langsung tertidur. Ketika bangun pagi, saya kaget sekali. Waktu mau mandi, saya ketemu Letkol Untung, Kolonel Latief,  dan Nyono. Ternyata Blok N merupakan tempat tokoh-tokoh utama G 30 S ditahan."  

Setelah pemeriksaan intensif selama sebulan, Satyagraha kemudian dipindahkan ke Blok Q, yang kebanyakan tahanannya adalah dari kalangan intelektual dan seniman. Di Blok Q ini mendekam tokoh-tokoh seniman, antara lain: Pramoedya Ananta Toer dan Sitor Situmorang. Sitor adalah salah seorang sastrawan terkemuka Indonesia, yang juga Ketua Lembaka Kebudayaan Nasional (LKN)—organ kebudayaan PNI.

Lima tahun Satyagraha mendekam di penjara, tanpa pernah diadili. "Akibatnya, saya tak bisa menafkahi keluarga saya. Istri saya lah yang membanting-tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Alhamdulillah ketiga anak saya pendidikannya cukup bagus."

Sejak ditahan, ia hanya bisa mendengar kabar tentang Bung Karno dari cerita yang didengar dari istrinya saat membesuk, atau dari cerita para sipir penjara. Hingga suatu siang, seorang sipir membawa koran terbitan hari itu yang memberitakan Bung Karno meninggal dunia, sehari sebelumnya: 21 Juni 1970.

Satyagraha mengenangkan hari itu:  "Mendapat kabar itu, saya tak bisa menahan tangis. Bung Karno, tokoh yang saya kagumi dan hormati itu telah wafat. Dan saya tak bisa ikut mengantar jenasah beliau ke tempat peristirahatan terakhir."

Keluar dari penjara, akhir tahun 1970, Satyagraha sempat bekerja di beberapa tempat. Antara lain, ia pernah bekerja cukup lama di PT Ciria Jasa, perusahaan jasa kontraktor yang didirikan Taufiq Kiemas, Guntur Soekarnoputra, bersama sejumlah mantan tokoh-tokoh GMNI.

Kini, di masa senja hidupnya, Satyagraha tinggal sendirian di rumah sederhana, di pinggiran kota Bekasi. Ia tak mau menjadi beban anak-cucunya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengerjakan jasa penerjemahan buku dan dokumen berbahasa Inggris, Belanda, dan Jerman. "Saya tak pernah menyesali apa yang pernah terjadi dalam hidup saya. Malah, saya bangga sudah pernah memberikan sumbangan pemikiran, lewat Suluh Indonesia,  bagi kemajuan bangsa."  
   
#Imranhasibuan

Rabu, 03 Februari 2021

Menggali Spirit Pancasila Dari Bali , Catatan Anjangsana Pancasila oleh BPIP ke NTT - Bali #9

Menggali Spirit Pancasila Dari Bali 
Catatan Anjangsana Pancasila oleh BPIP ke NTT - Bali #9

Menggali Spirit Pancasila Dari Bali

Oleh: Ngatawi Al-Zastrouw
Penulis adalah Seorang Budayawan dan Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia


SETELAH beberapa hari mengunjungi Sumba dan Ende, NTT, selanjutnya Tim Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengunjungi Bali dengan missi yang sama yaitu menggali berbagai nilai dan laku hidup masyarakat yang bisa dijadikan acuan dalam merumuskan strategi pembudayaan Pancasila.

Seperti halnya saat di NTT tiSaat diskusi Yudha Bantono, sebagai pegiat seni budaya di Bali yang sudah puluhan kali merintis pelaksanaan festival dan menangani berbagai event kebudayaan, memaparkan bahwa festival merupakan cara yang efektif untuk mengali nilai-nilai dan menghidupkan kembali tradisi yang ada di masyarakat Bali.m dipimpin oleh Direktur Pembudayaan Pancasila, ibu Irene Camelyn Sinaga dengan anggota tim diantaranya, ibu Nia Syarifudin, Paul Hendro, Taufiq Rahzen, Zastrouw dan beberapa staf dari BPIP.

Untuk menggali informasi dan praktek hidup yang bisa menjadi contoh dalam pembudayaan Pancasila, tim melakukan kunjungan ke sanggar dan komunitas serta berdiskusi dengan para pelaku seni dan penggerak budaya.

Pada kesempatan ini kami mengunjungi sanggar Paripurna pimpinan Made Sidia, Taman Nusa dan berdiskusi dengan Ranu Dibal (penggerak seni budaya dari komunitas Kitapoleng), Made Sidia (pemimpin sanggar Paripurna), Gung Dhe (Pengggerak budaya dan seniman Bali) serta Yudha Bantono (penggiat Seni budaya dan penggagas berbagai festival di Bali)

Melalui festival, berbagai tradisi yang hampir mati kerena tidak memiliki ruang ekspresi akhirnya bisa bangkit dan hidup kembali. Selain itu, festifval juga memiliki dampak yang signifikan untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Memang kadang terjadi tarik menarik antara kepentingan ekonomi dengan upaya menggali dan menghidupkan kebudayaan, namun hal ini bisa disinergikan secara kreatif.

Made Sidia, menjelaskan keberadaan sanggar Paripurna sebagai sarana merajut keberagaman dan membangun kebanggaan sebagai bangsa. Sanggar yang dirintis dan didirikan oleh Made Sidja, ayah Made Sidia, pada tahun 1990 ini sekarang memiliki 400 orang anggota dari berbagai usia dan profesi.

Sejak kepemimpinan di pegang Made Sidia, sanggar ini sudah menghasilkan berbagai karya seni kreatif dan inovatif yang ditampilkan di dalam maupun luar negeri. Beberapa kali mendapat pernghargaan tingkat internasional.


"Kami melakukan inovasi seni secara kreatif tanpa mengabaikan nilai-nilai tradisional budaya Bali. Kami justru menjadikan nilai-nilai tradisional sebagai sumber inspirasi dan bahan yang bisa dikembangkan dalam konteks kekinian dan hal ini justru yang menarik masyarakat Internasional. Oleh karena itu sebenarnya kita harus bangga degan tradisi yang kita miliki" Kata Made Sidia semangat.

Hal senada juga disampaikan oleh Ranu Dibal, seorang seniman Bali yang menggali dan menghidupkan spiritualitas Bali. Dibal mengkaji beberapa naskah kuno dan lontar Bali yang mengisahkan pengembaraan tokoh spiritual abad ke-16 bernama Dang Hyang Nirartha. Tokoh ini diyakini sebagai sosok yang berpengaruh dalam membangun kebudayaan dan spiritual di Bali dan Lombok dengan cinta kasih.

Spiritualitas Dang Hyang Nirartha dan beberapa kisah lontar Bali ini dieksplorasi kemudiaan diekspresikan dalam berbagai bentuk karya seni: visual art, videografi, photografi, fine art, design kostum, seni enterteinment dan teater. Untuk merealisasikan missi tersebut Ranuh Dibal bersama Jasmine Okubo mendirikan komunitas Kitapoleng pada tahun 2015.

Dibal menjelaskan, inspirasi komunitas Kitapoleng ini dari filosofi Poleng Bali yang bermakna alam semesta diciptakan dalam kondisi berpasangan dengan sifat yang saling bertolak belakang, seperti hitam-putih, siang-malam, positif-negatif, benar-salah dan sebagainya. Dua hal yang bertentangan ini tidak untuk saling memusnahkan dan menghancurkan tetapi untuk berjalan secara selaras dan seimbang, saling melengkapi untuk mencapai tujuan akhir yang selaras.


Setelah berbagi pengalaman dan informasi mengenai nilai-nilai dan budaya Bali, tim melakukan kunjungan ke Taman Nusa. Taman yang berada di Gianyar merupakan obyek wisata budaya yang mecerminkan keberagaman Nusantara.

Berbagai indormasi digambarkan dalam bentuk narasi maupun bangunan. Tata ruang dan arsitektur ditata secara artistik dan natural, menyatu dengan alam dengan pemandangan yang indah.

Di lahan seluar 15 hektar itu dibangun sekitar 60 rumah adat tradisional yang mewakili suku-suku yang ada di Indonesia. Selain itu juga dibangun beberapa bangunan yang mencerminan perjalanan peradaban Nusantara. Dimulai dari jaman pra-sejarah dengan desain alam yang primitif, kemudian zaman perunggu, era kerajaan, masa kolonial sampai era kemerdekaan dan kekinian.

Di taman Nusa ini juga ada gedung pertunjukan, perpustakaan, ruang seminar dan museum. Kami melihat di sini merupakan tempat ideal untuk melakukan pendidikan kebangsaan dan pembudayaan Pancasila bagi generasi muda.

Tapi sayang, tempat ini hancur dan tidak terawat karena Pandemi. Bangunan yang artistik dan penuh makna ini lapuk dan dan ditumbuhi rumput liar karena tidak terawat. "Biasanya ribuan orang mengunjungi tempat ini dalam seminggu, tapi sejak pandemi Covid-19, hampir tidak ada orang yang mengunjungi tempat ini" demikian kata petugas yang masih setia menjaga tempat ini.

Batin kami semakin teriris saat melihat tempat pertinjukan dan galeri bertaraf internasional itu rusak dan bocor di beberapa tempat. Lebih teriris lagi saat melihat beberapa koleksi benda antik yang ada dimuseun teronggok dan lapuk karena tidak terawat. "Pandemi telah membuat kami harus berangkat dari minus, bukan hanya dari nol" kata penjaga galeri.

Hari berikutnya kami kembali berdiskusi untuk merumuskan strategi pembudayaan Pancasila berdasar pengalaman para seniman dan pelaku budaya Bali. Penulis berkesempatan memandu acara diskusi.

Paul Hendro, seorang pelukis, menyatakan perlunya membuka ruang kreasi yang bisa membuat semua orang bisa berinteraksi secara bebas dan nyaman. Dengan cara ini berbagai perbedaan akan dapat didialogkan secara alamiah sehingga nilai-nilai Pancasila akan bisa diaktualisasikan dan dipraktekkan dalam kehiduan nyata.

Ada hal menarik yang disampaikan Gung Dhe, seorang penggerak sosial dan aktivis kebudayan Bali yaitu pentingnya menggali khazanah kebudayaan dan tradisi Nusantara sebagai sumber kreatifitas untuk pembudayaan Pancasila.

Menurut Gung Dhe, ada banyak konsep dari ajaran leluhur yang bisa dikembangkan,seperti "desa, kale, patre".
"Desa" mencerminkan dimensi ruang yang membentuk kesadaran spatial. Artinya aktualisasi Pancasila harus memperhatikan kodisi ruang Indonesia yang beragam. "Kale" berarti waktu, artinya pembuadayaan Pancasila harus memperhatikan dimensi waktu yang selalu berubah. "Patre" adalah keadaan sebagai cerminan dari ruang dan waktu. Ketiga dimensi ini harus selalu diperhatikan dan menjadi kesadaran bagi setiap pelaku pembudayaan Pancasila.

Selanjutnya Gung Dhe menjelaskan konsep "langon, ingon dan angon". "Langon" adalah sikap sadar, eling, mengenali diri dan alam; "Ingon" adalah berarti menguatkan kembali (revitalisasi); "angon" berarti mengelola atau berkarya.

Ketiga konsep ini merupakan siklus untuk menjaga keselarasan hidup. Agar hidup ini bisa damai maka seseorang harus selalu ingat, eling dengan cara mawas diri. Dari sini akan timbul kekuatan diri melakukan revitasisasi yang diwujudkan dalam berbagai karya untuk mengelola kehidupan.

Untuk bisa melakukan hal tersebut perlu mengkaitkan antara situs, ritus dan status. Selama ini terjadi hubungan yang terpisah antara situs dan status. Situs hanya menjadi benda mati yang tanpa makna, karena kehilangan ritus. Sebaliknya ritus yang dilakukan tidak berbasis pada situs yang ada, akibatnya kehilangan spirit dan ruh.

Akibat hubungan yang terpisah ini, maka situs dan status menjadi kehilangan status, tidak memiliki legitimasi.

Pancasila akan menjadi situs mati jika tidak memiliki ritus yaitu laku hidup yang mencerminkan nilai-nilai dan spirit Pancasila. Jika sudah demikian maka Pancasila akan kehilangan status karena hanya menjadi kata-kata, atau dilindas oleh ritus-ritus yang sama sekali tidak tertaut dengan situs (Pancasila).

Jika dicermati konsep-konsep ini berbentuk tiga dimensi yang menyatu dan berkelindan. Konstruksi ini sebangun dengan konsep "tri hita krana", suatu konsep spiritual dan kearifan lokal yang menjadi falsafah hidup masyarakat Bali yang bertujuan membentuk keselarasan hidup yang terbangun atas hubungan yang seimbang antara tiga aspek dalam kehidupan yaitu hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan manusia dengan sesama manusia.

Dari perbencangan ini kami melihat betapa banyak kearifan lokal warisan leluhur yang bisa kita gali untuk dijadikan sumber pengetahuan dalam menjawab realitas kekinian.

Konsep tri hata karana yang tercermin dalam pola tiga demensi yang berkelindan ini layak digali lebih dalam agar bisa diaktualisasikan untuk dijadikan pijakan dalam menyusun strategi pembudayaan Pancasila. (Tamat)