Rabu, 24 Februari 2021

Bantuan Pangan Non Tunai Bermasalah, Mahasiswa Pandeglang Demo Kejaksaan Negeri

Bantuan Pangan Non Tunai Bermasalah, Mahasiswa Pandeglang Demo Kejaksaan Negeri

Buntut BPNT Bermasalah, Aliansi Mahasiswa Pandeglang Aksi di Kantor  Kejaksaan Negeri

Puluhan massa yang terdiri dari Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Indonesia ( GPMI ), Jaringan Pemuda Mahasiswa Indonesia ( JPMI ), Assosiasi Gerakan Mahasiswa Indonesia ( AGMI ), Himpunan Aksi Mahasiswa dan Pemuda (HAMPA) yaang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Pandeglang ( AMP ) Kabupaten Pandeglang geruduk Kejaksaan Negeri Pandeglang soal carut marutnya supplier program Bantuan Non Pangan Tunai (BNPT) yang diangap memangkas hak masyarakat penerima manfaat. (Rab/24/02)

Pimpinan Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Indonesia (GPMI) Kiki Badhrul Hakiki mengutuk keras perusahaan supplier Persekutuan Komanditer (CV) Kenzi One Indonesia karena diangap telah memangkas hak masyarakat dengan memberikan komiditas pangan yang tidak layak dikonsumsi.

"CV. Kenzi One Indonesia sebagai supplier program bantuan pangan telah cacat. Perusahaan tersebut diketahui menyupplier sejumlah telur busuk bagi masyarakat penerima manfaat program bantuan pangan di Pandeglang",- ucapnya Rabu (24/2/2021)

Kiki Badhrul Hakiki dalam orasinya meminta Kejaksaan Negeri untuk bertindak tegas terhadap Perusahaan supplier yang menghisap masyarakat seperti dengan memberikan komoditas pangan yang cacat dan tidak layak konsumsi,

"Masyarakat kita ini sudah miskin jangan lagi di hisap. Oleh sebab itu kedatangan kami kali ini meminta kepada Kejari Kab. Pandeglang tegas terhadap perusahaan lintah darat yang menghisap masyarakat. Masyarakat kita ini sudah miskin jangan lagi di hisap",-pungkasnya,

Pria biasa disapa Kiki mengungkapkan, Pemerintah Daerah (Pemda) harus berani membersihkan mafia penghisap Prorgam BPNT/ BSP di Kab. Pandeglang. Ada mafia yang bermain pada program bantuan pangan di Kab. Pandeglang sehingga masalah pada program ini masih saja terus bergejolak.

Kiki Badhrul selaku Koordinator Aksi Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Pandeglang (AMP) mengatakan, Membersihkan mafia bantuan pangan di Kab. Pandeglang perlu komitmen bersama Pemda dengan Aparat Penegak Hukum (APH).

Menurutnya, Irna-Tanto Bupati Pandeglang selaku Kepala Daerah yang baru dilantik Pekan lalu harus juga melihat persoalan mafia pada bantuan pangan yang sangat merugikan masyarakat. Membersihkan mafia bantuan pangan harus jadi ajang pembuktian kepada masyarakat Kab. Pandeglang bahwa Irna Narulita-Tanto selaku Kepala Daerah sangat konsen kepada kesejahteraan masyarakat sesuai dengan janji pilkada Desember lalu.

Dalam Aksi serupa, Hidayat Presidium Jaringan Pemuda Mahasiswa Indonesia (JPMI) mendesak kepada DPRD Kab. Pandeglang Komisi IV (empat) dan Dinas Sosial Kab. Pandeglang untuk segera melakukan pemanggilang kepada Direktur CV Kenzi One Indonesia guna memberikan efek jera terhadap perusahaan yang menghisap masyarakat.

"Persoalan yang terjadi harus segera disikapi oleh seluruh pihak terkait. supplier yang memotong hak masyarakat harus segera diberikan sanksi tegas",-Teriaknya dalam orasi,

Hidayat menegaskan kami menunggu pemanggilan oleh Pemda pada CV. Kenzi One Indonesia dalam satu minggu ini. Apabila dalam satu minggu tidak ada pemanggilan pada pihak CV. Kenzi One Indonesia oleh Pemda Kab. Pandeglang. Maka jangan salahkan masyarakat apabila akan ada badai manusia mengepung alun-alun Kabupaten Pandeglang.

"Masyarakat Pandeglang sudah cerdas, mereka sadar haknya dipotong oleh supplier, oleh karena itu jangan sampai amarah masyarakat dipancing dengan sikap pemerintah yang acuh terhadap persoalan ini",-Tutup Hidayat.

Humas AMP
081317102220

Selasa, 16 Februari 2021

9 Milyar Dana Pembangunan Museum SBY Bukan APBD Pacitan Tapi Dari Gubernur Khofifah Sumbernya APBD Jatim

9 Milyar Dana Pembangunan Museum SBY Bukan APBD Pacitan Tapi Dari Gubernur Khofifah Sumbernya  APBD Jatim


Bupati Pacitan Indartato membantah dana Rp 9 miliar untuk Yudhyono Foundation bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (Jatim).

Menurut dia, dana tersebut merupakan dukungan dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yakni pemerintah
provinsi (pemprov) Jatim untuk pembangunan museum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kabupaten Pacitan.

"Bukan dari APBD Pacitan. Itu dari pemeritah provinsi yang memberikan bantuan namanya bantuan keuangan khusus (BKK) kepada pemerintah daerah untuk pembangunan museum Pak SBY," katanya pada salah satu siaran TV Nasional

Indartato menerangkan, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Pacitan awalnya mengusulkan dana bantuan untuk pembangunan Museum SBY.

Kemudian dana yang disebut sebagai bantuan keuangan khusus (BKK) itu diterima oleh Pemda Kabupaten Pacitan pada 9 Desember 2020 lalu. Dana tersebut selanjutnya dimasukkan dalam APBD Kabupaten Pacitan Tahun 2021.

Terkait dugaan adanya muatan politis dalam pencarian dana hibah tersebut, Indartato tegas membantah. Tujuannya, kata dia, semata untuk kesejahteraan masyarakat Pacitan.

Tampaknya apa yang dikatakan oleh Bupati Pacitan tersebut tidaklah berlbihan. Semangat Khofifah membangun museum SBY memakai dana APBD provinsi Jatim ini ditunjukkan dengan kedatangan Gubernur Jatim memantau langsung pembangunan museum ini ke Pacitan sebagaimana ditunjukkan status twitter pribadinya @KhofifahIP

Pada akun resminya https://twitter.com/KhofifahIP/status/1317787916127498240 Khofifah menulis status: "Melihat progres pembangunan Museum SBY - Ani (Pepo & Memo) di Jalan Lingkar Selatan (JLS), Pacitan. InsyaAllah, museum dan galeri seni sekitar 7.500 meter persegi ini selesai Maret 2021 mendatang & akan dibuka bagi masyarakat umum pada tahun 2022. Mohon do'a semoga lancar sukses"

Sementara itu Khofifah ketika dihubungi melalui HP/WA nya 0811-8788-888 belum ada tanggapan, demikian juga ketika Sekretaris Pribadi Khofifah, Ibu Luluk dihubungi melalui selularnya 0812-8659-6652 juga belum memberikan jawaban

Sebagaimana diketahui, bahwa sebelumnya viral kabar bahwa Pemerintah Kabupaten Pacitan telah memberi dana hibah sebesar Rp 9 miliar yang masuk ke Yudhoyono Foundation, yayasan yang didirikan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Kabar tersebut bahkan heboh di media sosial. Yayasan Yudhoyono Foundation dikatakan mendapatkan hibah sebesar Rp 9 miliar anggaran APBD Kabupaten Pacitan Tahun Anggaran 2021.



Minggu, 07 Februari 2021

Gak Kapok, Anak Rhoma Irama Lagi-Lagi Ditangkap Karena Narkoba

Gak Kapok, Anak Rhoma Irama Lagi-Lagi Ditangkap Karena Narkoba

Inline image

Kabar mengejutkan kembali datang dari dunia selebritas Tanah Air. Pedangdut Ridho Rhoma kembali ditangkap polisi terkait kasus narkoba.

"Benar,' kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus saat dikonfirmasi, Minggu (7/2/2021).

Informasi yang diterima detikcom Ridho Rhoma ditangkap oleh jajaran Sat Narkoba Polres Pelabuhan Tanjung Priok. Ridho ditangkap di sebuah apartemen di pada Kamis (4/2).

Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Ahrie Sonta juga membenarkan soal penangkapan Ridho Rhoma ini saat dihubungi.

"Betul. Nanti lengkapnya bisa ditanyakan ke Polda Metro saja," ujarnya.

Ini bukan kali pertama anak pedangdut Rhoma Irama ini terjerat kasus narkoba. Ridho Rhoma pernah ditangkap polisi pada 25 Maret 2017 lalu. Polisi saat itu menyita barang bukti sabu seberat 0,7 gram berikut alat isapnya.



Sabtu, 06 Februari 2021

SATYAGRAHA: WARTAWAN YANG TERLUPAKAN

SATYAGRAHA: WARTAWAN YANG TERLUPAKAN
Oleh: Imron Hasibuan

Menjelang Hari Pers Nasional, saya memposting ulang tulisan enam tahun lalu tentang seorang wartawan yang seakan terlupakan dalam catatan sejarah pers negeri ini.
-------------------------------------

Lelaki tua itu berdiri di tengah pintu rumah sederhana, di sebuah perumahan, di pingggir Kota Bekasi. Perawakannya sedang, agak membungkuk. Sebuah kacamata tebal menempel di wajahnya yang mengguratkan keramahan. "Perkenalkan, saya Satyagraha. Ayo, silakan masuk," katanya, sambil bersalaman.

Sesaat kemudian ia pun mulai berkisah. Menjelang Pemilu 1955, pemilihan umum pertama setelah kemerdekan Indonesia, partai-partai politik bersiap, terutama dalam melakukan agitasi- propaganda. Hampir semua partai besar di masa itu telah memiliki surat-kabar yang mendukung. Masjumi, misalnya, punya koran Abadi. PSI didukung Pedoman, yang dipimpin wartawan kawakan Rosihan Anwar. PKI punya organ resmi Harian Rakyat. Bahkan PSII (Partai Syarekat Islam Indonesia) menerbitkan Pemandangan.

Hanya Partai Nasional Indonesia (PNI) yang belum punya media resmi. Harian Merdeka, yang dipimpin BM Diah, hanya menyatakan sebagai simpatisan. Kebijakan redaksionalnya tidak harus selalu sejalan dengan garis PNI. "Melihat kondisi ini, Pak Sidik Djojosukarto, yang saat itu menjabat Ketua Umum PNI, memanggil beberapa pengurus DPP PNI untuk segera menerbitkan sebuah surat-kabar yang merupakan organ partai. Tujuannya untuk mengantisipasi pemilu yang akan segera digelar," kata Satyagraha.

Dalam pertemuan itu diputuskan bahwa akan segera diterbitkan koran harian dengan nama Suluh Indonesia. Sebagai pemimpin umum ditunjuk M. Tabrani, salah seorang tokoh senior PNI yang juga digulis (orang yang pernah dibuang pemerintah kolonial Belanda ke Digul, daerah terpencil di Papua). Sedangkan pemimpin redaksi dijabat Sajuti Melik, yang juga digulis.  "Saya diminta Pak Sajuti Melik menjadi redaktur pertama. Dalam praktiknya, saya merangkap sebagai reporter, korektor, dan lay-outer. Pak Sajuti, sebagai pemimpin redaksi, hanya menulis Tajuk. Saya hanya dibantu seorang wartawan bernama Hasan Gayo, yang pernah bekerja di surat kabar Indonesia Raya." Jadi, di masa-masa awal penerbitannya, Suluh Indonesia hanya punya awak redaksi tiga orang: Sajuti Melik, Satyagraha, dan Hasan Gayo.    
 
Setelah persiapan beberapa bulan terbitlah Suluh Indonesia. Edisi perdana Suluh Indonesia, yang kemudian dikenal dengan nama singkatannya, Sulindo, terbit 1 Oktober 1953. "Edisi perdana Sulindo itu dicetak di percetakan milik Sutan Takdir Alisyahbana, di Jalan Ketapang. Hanya empat halaman hitam putih, oplag sekitar 75 ribu eksemplar. Dari sore sampai tengah malam, saya dan Hasan Gayo mempersiapkan lay-outnya di percetakan. Pak Sajuti sempat mengecek ke percetakan, dan bilang: 'lay-outnya kok seperti susunan batu bata'. Saya jawab: yang penting terbit dulu, Pak. Ha..ha…"

Sejak itu, Sulindo terbit setiap hari, Senin sampai Sabtu. Respon masyarakat cukup bagus. Sebagian koran  didistribusi lewat cabang-cabang PNI di daerah, sebagian lagi lewat agen-agen surat-kabar.
Sajuti Melik menjadi pemimpin redaksi hingga Pemilu 1955 usai. Suasana kampanye pemilu, membuat pemasaran Sulindo melonjak. Oplag pun digenjot hingga 150 ribu eksemplar. Kata Satyagraha: "Di masa-masa kampanye pemilu, Suluh Indonesia secara jelas menunjukkan warnanya sebagai koran PNI. Semua kebijakan dan kegiatan partai disiarkan. Bahkan, lambang PNI, banteng segitiga, dipasang di halaman satu."  Hasilnya sukses besar: PNI keluar sebagai pemenang Pemilu 1955.

Tak lama setelah pemilu, Sajuti Melik digantikan M. Supardi. Tokoh terakhir ini sebelumnya menerbitkan surat-kabar Nasional, yang juga berhaluan nasionalis. Tapi, hanya terbit setahun, dan kemudian bangkrut. Saat Supardi pindah ke Sulindo, ia membawa awak redaksinya, ada sepuluh orang. Satyagraha tetap menjadi redaktur pertama.
Tak sampai setahun kemudian, Supardi diganti lagi oleh Manai Sophian, yang saat itu juga menjabat sebagai Ketua Departemen Agitasi dan Proganda DPP PNI. Dibawah kepemimpinan Manai Sophian, Sulindo hampir sepenuhnya menjadi corong partai. Satyagraha masih menjadi redaktur pertama.

Dari Manai Sophian, pemimpin redaksi Sulindo beralih kepada Jusuf Muda Dalam. Satyagraha sempat memprotes pengangkatan Jusuf Muda Dalam kepada Sidik Djojosukarto. "Banyak yang tahu bahwa Jusuf Muda Dalam pernah menjadi anggota aktif PKI. Malah dia menduduki posisi penting di PKI, sebagai anggota tim verifikasi yang menentukan penempatan orang-orang di jabatan penting di PKI. Tapi, Pak Sidik bilang, dia sudah 'tobat', dan kini masuk PNI." Maka Satyagraha pun terpaksa menerima keputusan itu. Posisinya di Sulindo tetap sebagai redaktur pertama.

Di awal tahun 1957, Mohamad Isnaeni-- tokoh muda PNI yang sudah duduk sebagai anggota parlemen-- diangkat menjadi pemimpin redaksi Sulindo. Bersamaan dengan itu, Satyagraha diangkat menjadi wakil pemimpin redaksi. Selama gonta-ganti pemimpin redaksi, Satyagraha lah yang menjadi motor penggerak redaksi Sulindo sehari-hari. Tentunya dibantu para wartawan yang jumlahnya sudah cukup banyak.

Selain mengelola Sulindo, Satyagraha juga ditunjuk sebagai pemimpin redaksi Berita Minggu, koran yang hanya terbit setiap hari Minggu. Kantor redaksi dan sebagian awak redaksinya sama dengan Sulindo. Maka, mulailah Satyagraha mengubah Berita Minggu, menjadi koran yang mengangkat berita-berita populer yang terjadi ditengah masyarakat, dengan gaya penulisan populer pula.

"Dengan gaya populer itu, Berita Minggu sangat digemari masyarakat. Oplagnya pernah mencapai 350.000 eksemplar. Sampai-sampai kami kewalahan memenuhi permintaan agen-agen koran. Dengan dana dari Berita Minggu itulah, kami bisa menopang penerbitan Sulindo setiap hari. Bahkan, belakangan bisa mendirikan percetakan sendiri di Kemayoran," kenang Satyagraha.

Pemberitaan Suluh Indonesia dan Berita Minggu tidak selalu sejalan dengan kemauan para pemimpin PNI. Suatu kali, misalnya, Satyagraha ditegur Hardi, SH, Wakil Ketua Umum PNI, karena memuat pendapatnya di halaman dua Sulindo. Sementara pada berita headline di halaman depan, Sulindo memuat pendapat Lucien Pahala, tokoh Presidium GMNI, tentang masalah yang sama dikemukakan Hardi. "Menurut penilaian saya, pendapat Lucien Pahala yang lebih berbobot dan mendekati kebenaran. Karena itu, saya tampilkan di tulisan utama."

Suatu hari, Satyagraha diajak Sajuti Melik ke Istana Bogor, untuk bertemu Bung Karno. Itulah pertemuan pertama Satyagraha dengan Bung Karno. Saat bertemu, Bung Karno langsung bertanya: "Kamu siapa?"

"Satyagraha, Bung. Wartawan Suluh Indonesia dan Berita Minggu."

"Oh… Aku sering baca tulisan kamu di Sulindo, juga Berita Minggu. Apik…apik…," kata Bung Karno lagi.

Lalu, percakapan berlangsung akrab. Bung Karno menanyakan kota asal Satyagraha, yang langsung dijawab: "Blitar, Bung." Mendengar itu, Bung Karno bertanya lebih lanjut tentang keluarganya. Ketika Satyagraha menyebut nama ibunya, Bung Karno langsung menyela: "Oh… kamu anaknya Tuti. Saya kenal keluarga ibu kamu."

Di akhir pembicaraan, Bung Karno bilang: "Mulai besok, dari Suluh Indonesia kamu yang meliput di istana ya."

Sejak itu, Satyagraha pun resmi menjadi "wartawan istana", yang meliput berbagai kegiatan Presiden Soekarno, terutama lawatan ke luar negeri. Ia, misalnya, pernah mengikuti lawatan Bung Karno ke Amerika Serikat, September 1960, untuk berpidato di depan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pidato berjudul "To Build The World a New" itu mendapat sambutan meriah dari peserta sidang.  "Sebagai bangsa Indonesia, saya bangga sekali melihat Bung Karno berpidato berapi-api di depan diplomat seluruh dunia. Apalagi, setelah pidato Bung Karno usai, tepuk-tangan bergemuruh di gedung PBB itu."

Dalam lawatan yang sama, Bung Karno juga menemui Presiden John F. Kennedy. Ketika itu, Bung Karno sedang gencar-gencarnya menggelorakan kampanye pembebasan Irian Barat. "Dengan pintarnya Bung Karno memainkan diplomasi, sehingga Kennedy setuju dilakukan referendum di Irian Barat. Itu dilakukan Bung Karno dengan pendekatan pribadi kepada John Kennedy dan keluarganya."

Dari Amerika Serikat, Bung Karno mengunjungi Kuba. Ketika itu, Fidel Castro baru beberapa tahun berhasil memimpin revolusi yang menjatuhkan rezim Batista. Dalam sebuah pertemuan yang sudah dijadwalkan, Castro terlambat hampir tiga jam. "Begitu bertemu, Bung Karno langsung memarahi Castro. Tapi, momen ini sengaja tidak diekspose media-massa, atas permintaan Bung Karno sendiri," ujar Satyagraha. Yang muncul di media-massa adalah bagaimana Castro meminta nasehat dari Bung Karno tentang bagaimana membangun kemandirian bangsanya.

Saat di dalam negeri, Bung Karno juga akrab dengan para wartawan. Setiap Rabu pagi, Satyagraha dan beberapa "wartawan istana" lain biasa sarapan pagi bersama Bung Karno, di beranda belakang Istana Negara. "Nah, waktu sarapan bersama itulah, para wartawan memberikan masukan tentang berbagai soal-soal kenegaraan kepada Bung Karno. Kadang kami juga berdebat dengan Bung Karno tentang masalah-masalah politik. Menurut pengalaman saya, dalam pertemuan-pertemuan terbatas seperti itu Bung Karno mau menerima kritik tajam sekalipun, bahkan yang menyangkut kehidupan pribadinya. Tapi, kalau dikritik di depan publik ataupun di media-massa, beliau bisa marah."

Meski begitu, kadang pemberitaan Sulindo, membuat Bung Karno tak berkenan. Suatu hari, Satyagraha dipanggil Bung Karno karena tajuk rencana Sulindo yang ditulisnya mengkritik "aksi sepihak" yang marak dilakukan aktivis PKI di daerah-daerah. "Kamu sekarang sudah komunistofobia," semprot Bung Karno.

Tapi, setelah Satyagraha menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di lapangan, Bung Karno bisa menerima. Di awal tahun 1960-an itu PNI memang tengah bertarung sengit dengan PKI. Agitasi dan aksi-aksi para aktivis PKI di daerah-daerah, terutama di pedesaan Jawa, banyak membawa korban para lurah dan camat, yang umumnya menjadi anggota PNI.

Dilain waktu, Sulindo dan Berita Minggu memuat tulisan SK Trimurti berjudul "Kambing Tua Makan Rumput Muda". Isinya mengkritik Bung Karno yang menikah lagi dengan Ibu Hartini. Keesokan harinya, Satyagraha dipanggil Kolonel Sugandi, ajudan Bung Karno. "Saya dimarahi, dan diberi surat tidak boleh datang ke Istana Negara selama tiga bulan. Surat itu ditandatangani Kolonel Sugandi sendiri."

Satyagraha menerima larangan tersebut. Selama tiga bulan ia tidak ke Istana Negara. Setelah tiga bulan berlalu, barulah ia meliput lagi ke istana. Saat ketemu, Bung Karno menegur: "Hei Satya, kemana saja kamu, kok lama nggak kelihatan."

"Lo, kan saya dilarang Pak Gandi masuk istana," jawab Satyagraha.

Mendengar itu, Bung Karno langsung memanggil Sugandi. Yang dipanggil membenarkan, tapi tidak menjelaskan mengapa Satyagraha dilarang masuk istana. "Jadi, sebenarnya Bung Karno tidak pernah membaca tulisan Bu SK Trimurti itu. Larangan itu cuma bikin-bikinan Kolonel Sugandi saja."

Dalam Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI),Februari 1959, di Lembang, Bandung, Satyagraha terpilih sebagai Sekretaris Jenderal. Ia masih dipercaya menduduki jabatan tersebut dalam Kongres PWI berikutnya di Makassar, Maret 1961, dan di Jakarta, Agustus 1963-- sampai saat Gerakan 30 September 1965 meletus. Selama tiga periode menjadi sekjen, ia mengalami tiga orang Ketua Umum PWI.

Pertengahan tahun 1965, Satyagraha dipanggil Ali Sastroamidjojo, Ketua Umum PNI masa itu. "Saya diperintahkan menjadi wakil ketua panitia peringatan ulang tahun PNI yang jatuh beberapa bulan lagi. Ketua panitianya Bung Surachman, Sekjen PNI. Pak Ali berpesan acara itu harus lebih semarak daripada acara ulang tahun PKI, setahun sebelumnya. Massa yang hadir juga harus lebih banyak dari massa PKI."

Maka, Satyagraha bersama Surachman pun bekerja keras menggalang massa untuk hadir di acara ulang tahun PNI. Lokasi acaranya sudah ditetapkan: Stadiun Gelora Bung Karno. Satyagraha kebagian menggalang lewat media-massa, terutama Sulindo dan Berita Minggu. Sedangkan Surachman dan pimpinan organ PNI, menggalang massa di cabang-cabang PNI di Jawa. Ketika hari H tiba, 4 Juli 1965, massa yang hadir di GBK membludak, sekitar 150.000 orang. Ketika Bung Karno naik ke podium untuk berpidato, kata pertama yang diucapkannya: "Ckkk…ckkk…Bukan main!"

Tapi, naik-turun jalan kehidupan memang tak bisa diduga. Di awal tahun 1965, Satyagraha ditunjuk DPP PNI sebagai pemimpin redaksi Sulindo, menggantikan Mohamad Isnaeni. Saat itu, ia juga masih menjabat Sekjen PWI. Usianya 34 tahun. Satyagraha ditengah puncak karirnya sebagai wartawan.

Tiba-tiba terjadi Peristiwa 30 September 1965, yang menjadi titik balik kehidupannya. Terhitung 3 Oktober, Sulindo dan Berita Minggu, serta sejumlah surat-kabar lainnya, dilarang terbit oleh tentara. Edisi terakhir Sulindo terbit tanggal 2 Oktober 1965.

Dua minggu kemudian, persisnya tanggal 18 Oktober, Satyagraha ditangkap aparat keamanan. "Saat itu saya dan John Lumingkewas (dari Presidium GMNI) mau menjemput Karim DP di tempat persembunyiannya di Bandung. Begitu sampai di tempat itu, ternyata sejumlah tentara sudah ada disana. Akibatnya, saya dan John juga ikut ditangkap." John Lumingkewas adalah Presidium GMNI, sedangkan Karim DP ketika itu menjabat Ketua Umum PWI. Karim DP sempat buron karena namanya tercantum dalam Dewan Revolusi, yang diumumkan Letkol Untung—komandan G 30 S.

Mereka—Satyagraha, Karim DP, dan John Lumingkewas-- pun dibawa dengan jeep tentara ke Jakarta. "John diturunkan di tengah jalan. Saya dan Karim langsung di bawa ke penjara Salemba. Saat itu sudah menjelang tengah malam. Kami ditempatkan di Blok N, masing-masing di satu sel. Karena kelelahan, saya langsung tertidur. Ketika bangun pagi, saya kaget sekali. Waktu mau mandi, saya ketemu Letkol Untung, Kolonel Latief,  dan Nyono. Ternyata Blok N merupakan tempat tokoh-tokoh utama G 30 S ditahan."  

Setelah pemeriksaan intensif selama sebulan, Satyagraha kemudian dipindahkan ke Blok Q, yang kebanyakan tahanannya adalah dari kalangan intelektual dan seniman. Di Blok Q ini mendekam tokoh-tokoh seniman, antara lain: Pramoedya Ananta Toer dan Sitor Situmorang. Sitor adalah salah seorang sastrawan terkemuka Indonesia, yang juga Ketua Lembaka Kebudayaan Nasional (LKN)—organ kebudayaan PNI.

Lima tahun Satyagraha mendekam di penjara, tanpa pernah diadili. "Akibatnya, saya tak bisa menafkahi keluarga saya. Istri saya lah yang membanting-tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Alhamdulillah ketiga anak saya pendidikannya cukup bagus."

Sejak ditahan, ia hanya bisa mendengar kabar tentang Bung Karno dari cerita yang didengar dari istrinya saat membesuk, atau dari cerita para sipir penjara. Hingga suatu siang, seorang sipir membawa koran terbitan hari itu yang memberitakan Bung Karno meninggal dunia, sehari sebelumnya: 21 Juni 1970.

Satyagraha mengenangkan hari itu:  "Mendapat kabar itu, saya tak bisa menahan tangis. Bung Karno, tokoh yang saya kagumi dan hormati itu telah wafat. Dan saya tak bisa ikut mengantar jenasah beliau ke tempat peristirahatan terakhir."

Keluar dari penjara, akhir tahun 1970, Satyagraha sempat bekerja di beberapa tempat. Antara lain, ia pernah bekerja cukup lama di PT Ciria Jasa, perusahaan jasa kontraktor yang didirikan Taufiq Kiemas, Guntur Soekarnoputra, bersama sejumlah mantan tokoh-tokoh GMNI.

Kini, di masa senja hidupnya, Satyagraha tinggal sendirian di rumah sederhana, di pinggiran kota Bekasi. Ia tak mau menjadi beban anak-cucunya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengerjakan jasa penerjemahan buku dan dokumen berbahasa Inggris, Belanda, dan Jerman. "Saya tak pernah menyesali apa yang pernah terjadi dalam hidup saya. Malah, saya bangga sudah pernah memberikan sumbangan pemikiran, lewat Suluh Indonesia,  bagi kemajuan bangsa."  
   
#Imranhasibuan

Rabu, 03 Februari 2021

Menggali Spirit Pancasila Dari Bali , Catatan Anjangsana Pancasila oleh BPIP ke NTT - Bali #9

Menggali Spirit Pancasila Dari Bali 
Catatan Anjangsana Pancasila oleh BPIP ke NTT - Bali #9

Menggali Spirit Pancasila Dari Bali

Oleh: Ngatawi Al-Zastrouw
Penulis adalah Seorang Budayawan dan Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia


SETELAH beberapa hari mengunjungi Sumba dan Ende, NTT, selanjutnya Tim Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mengunjungi Bali dengan missi yang sama yaitu menggali berbagai nilai dan laku hidup masyarakat yang bisa dijadikan acuan dalam merumuskan strategi pembudayaan Pancasila.

Seperti halnya saat di NTT tiSaat diskusi Yudha Bantono, sebagai pegiat seni budaya di Bali yang sudah puluhan kali merintis pelaksanaan festival dan menangani berbagai event kebudayaan, memaparkan bahwa festival merupakan cara yang efektif untuk mengali nilai-nilai dan menghidupkan kembali tradisi yang ada di masyarakat Bali.m dipimpin oleh Direktur Pembudayaan Pancasila, ibu Irene Camelyn Sinaga dengan anggota tim diantaranya, ibu Nia Syarifudin, Paul Hendro, Taufiq Rahzen, Zastrouw dan beberapa staf dari BPIP.

Untuk menggali informasi dan praktek hidup yang bisa menjadi contoh dalam pembudayaan Pancasila, tim melakukan kunjungan ke sanggar dan komunitas serta berdiskusi dengan para pelaku seni dan penggerak budaya.

Pada kesempatan ini kami mengunjungi sanggar Paripurna pimpinan Made Sidia, Taman Nusa dan berdiskusi dengan Ranu Dibal (penggerak seni budaya dari komunitas Kitapoleng), Made Sidia (pemimpin sanggar Paripurna), Gung Dhe (Pengggerak budaya dan seniman Bali) serta Yudha Bantono (penggiat Seni budaya dan penggagas berbagai festival di Bali)

Melalui festival, berbagai tradisi yang hampir mati kerena tidak memiliki ruang ekspresi akhirnya bisa bangkit dan hidup kembali. Selain itu, festifval juga memiliki dampak yang signifikan untuk peningkatan ekonomi masyarakat. Memang kadang terjadi tarik menarik antara kepentingan ekonomi dengan upaya menggali dan menghidupkan kebudayaan, namun hal ini bisa disinergikan secara kreatif.

Made Sidia, menjelaskan keberadaan sanggar Paripurna sebagai sarana merajut keberagaman dan membangun kebanggaan sebagai bangsa. Sanggar yang dirintis dan didirikan oleh Made Sidja, ayah Made Sidia, pada tahun 1990 ini sekarang memiliki 400 orang anggota dari berbagai usia dan profesi.

Sejak kepemimpinan di pegang Made Sidia, sanggar ini sudah menghasilkan berbagai karya seni kreatif dan inovatif yang ditampilkan di dalam maupun luar negeri. Beberapa kali mendapat pernghargaan tingkat internasional.


"Kami melakukan inovasi seni secara kreatif tanpa mengabaikan nilai-nilai tradisional budaya Bali. Kami justru menjadikan nilai-nilai tradisional sebagai sumber inspirasi dan bahan yang bisa dikembangkan dalam konteks kekinian dan hal ini justru yang menarik masyarakat Internasional. Oleh karena itu sebenarnya kita harus bangga degan tradisi yang kita miliki" Kata Made Sidia semangat.

Hal senada juga disampaikan oleh Ranu Dibal, seorang seniman Bali yang menggali dan menghidupkan spiritualitas Bali. Dibal mengkaji beberapa naskah kuno dan lontar Bali yang mengisahkan pengembaraan tokoh spiritual abad ke-16 bernama Dang Hyang Nirartha. Tokoh ini diyakini sebagai sosok yang berpengaruh dalam membangun kebudayaan dan spiritual di Bali dan Lombok dengan cinta kasih.

Spiritualitas Dang Hyang Nirartha dan beberapa kisah lontar Bali ini dieksplorasi kemudiaan diekspresikan dalam berbagai bentuk karya seni: visual art, videografi, photografi, fine art, design kostum, seni enterteinment dan teater. Untuk merealisasikan missi tersebut Ranuh Dibal bersama Jasmine Okubo mendirikan komunitas Kitapoleng pada tahun 2015.

Dibal menjelaskan, inspirasi komunitas Kitapoleng ini dari filosofi Poleng Bali yang bermakna alam semesta diciptakan dalam kondisi berpasangan dengan sifat yang saling bertolak belakang, seperti hitam-putih, siang-malam, positif-negatif, benar-salah dan sebagainya. Dua hal yang bertentangan ini tidak untuk saling memusnahkan dan menghancurkan tetapi untuk berjalan secara selaras dan seimbang, saling melengkapi untuk mencapai tujuan akhir yang selaras.


Setelah berbagi pengalaman dan informasi mengenai nilai-nilai dan budaya Bali, tim melakukan kunjungan ke Taman Nusa. Taman yang berada di Gianyar merupakan obyek wisata budaya yang mecerminkan keberagaman Nusantara.

Berbagai indormasi digambarkan dalam bentuk narasi maupun bangunan. Tata ruang dan arsitektur ditata secara artistik dan natural, menyatu dengan alam dengan pemandangan yang indah.

Di lahan seluar 15 hektar itu dibangun sekitar 60 rumah adat tradisional yang mewakili suku-suku yang ada di Indonesia. Selain itu juga dibangun beberapa bangunan yang mencerminan perjalanan peradaban Nusantara. Dimulai dari jaman pra-sejarah dengan desain alam yang primitif, kemudian zaman perunggu, era kerajaan, masa kolonial sampai era kemerdekaan dan kekinian.

Di taman Nusa ini juga ada gedung pertunjukan, perpustakaan, ruang seminar dan museum. Kami melihat di sini merupakan tempat ideal untuk melakukan pendidikan kebangsaan dan pembudayaan Pancasila bagi generasi muda.

Tapi sayang, tempat ini hancur dan tidak terawat karena Pandemi. Bangunan yang artistik dan penuh makna ini lapuk dan dan ditumbuhi rumput liar karena tidak terawat. "Biasanya ribuan orang mengunjungi tempat ini dalam seminggu, tapi sejak pandemi Covid-19, hampir tidak ada orang yang mengunjungi tempat ini" demikian kata petugas yang masih setia menjaga tempat ini.

Batin kami semakin teriris saat melihat tempat pertinjukan dan galeri bertaraf internasional itu rusak dan bocor di beberapa tempat. Lebih teriris lagi saat melihat beberapa koleksi benda antik yang ada dimuseun teronggok dan lapuk karena tidak terawat. "Pandemi telah membuat kami harus berangkat dari minus, bukan hanya dari nol" kata penjaga galeri.

Hari berikutnya kami kembali berdiskusi untuk merumuskan strategi pembudayaan Pancasila berdasar pengalaman para seniman dan pelaku budaya Bali. Penulis berkesempatan memandu acara diskusi.

Paul Hendro, seorang pelukis, menyatakan perlunya membuka ruang kreasi yang bisa membuat semua orang bisa berinteraksi secara bebas dan nyaman. Dengan cara ini berbagai perbedaan akan dapat didialogkan secara alamiah sehingga nilai-nilai Pancasila akan bisa diaktualisasikan dan dipraktekkan dalam kehiduan nyata.

Ada hal menarik yang disampaikan Gung Dhe, seorang penggerak sosial dan aktivis kebudayan Bali yaitu pentingnya menggali khazanah kebudayaan dan tradisi Nusantara sebagai sumber kreatifitas untuk pembudayaan Pancasila.

Menurut Gung Dhe, ada banyak konsep dari ajaran leluhur yang bisa dikembangkan,seperti "desa, kale, patre".
"Desa" mencerminkan dimensi ruang yang membentuk kesadaran spatial. Artinya aktualisasi Pancasila harus memperhatikan kodisi ruang Indonesia yang beragam. "Kale" berarti waktu, artinya pembuadayaan Pancasila harus memperhatikan dimensi waktu yang selalu berubah. "Patre" adalah keadaan sebagai cerminan dari ruang dan waktu. Ketiga dimensi ini harus selalu diperhatikan dan menjadi kesadaran bagi setiap pelaku pembudayaan Pancasila.

Selanjutnya Gung Dhe menjelaskan konsep "langon, ingon dan angon". "Langon" adalah sikap sadar, eling, mengenali diri dan alam; "Ingon" adalah berarti menguatkan kembali (revitalisasi); "angon" berarti mengelola atau berkarya.

Ketiga konsep ini merupakan siklus untuk menjaga keselarasan hidup. Agar hidup ini bisa damai maka seseorang harus selalu ingat, eling dengan cara mawas diri. Dari sini akan timbul kekuatan diri melakukan revitasisasi yang diwujudkan dalam berbagai karya untuk mengelola kehidupan.

Untuk bisa melakukan hal tersebut perlu mengkaitkan antara situs, ritus dan status. Selama ini terjadi hubungan yang terpisah antara situs dan status. Situs hanya menjadi benda mati yang tanpa makna, karena kehilangan ritus. Sebaliknya ritus yang dilakukan tidak berbasis pada situs yang ada, akibatnya kehilangan spirit dan ruh.

Akibat hubungan yang terpisah ini, maka situs dan status menjadi kehilangan status, tidak memiliki legitimasi.

Pancasila akan menjadi situs mati jika tidak memiliki ritus yaitu laku hidup yang mencerminkan nilai-nilai dan spirit Pancasila. Jika sudah demikian maka Pancasila akan kehilangan status karena hanya menjadi kata-kata, atau dilindas oleh ritus-ritus yang sama sekali tidak tertaut dengan situs (Pancasila).

Jika dicermati konsep-konsep ini berbentuk tiga dimensi yang menyatu dan berkelindan. Konstruksi ini sebangun dengan konsep "tri hita krana", suatu konsep spiritual dan kearifan lokal yang menjadi falsafah hidup masyarakat Bali yang bertujuan membentuk keselarasan hidup yang terbangun atas hubungan yang seimbang antara tiga aspek dalam kehidupan yaitu hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam dan manusia dengan sesama manusia.

Dari perbencangan ini kami melihat betapa banyak kearifan lokal warisan leluhur yang bisa kita gali untuk dijadikan sumber pengetahuan dalam menjawab realitas kekinian.

Konsep tri hata karana yang tercermin dalam pola tiga demensi yang berkelindan ini layak digali lebih dalam agar bisa diaktualisasikan untuk dijadikan pijakan dalam menyusun strategi pembudayaan Pancasila. (Tamat)



Selasa, 02 Februari 2021

Pesantren Walisanga Ende; Menanamkan Toleransi dan Moderasi Sejak Dini , Catatan Anjangsana Pancasila oleh BPIP ke NTT - Bali #8

Pesantren Walisanga Ende; Menanamkan Toleransi dan Moderasi Sejak Dini 
Catatan Anjangsana Pancasila oleh BPIP ke NTT - Bali #8

Pesantren Walisanga Ende; Menanamkan Toleransi dan Moderasi Sejak Dini

Oleh: Ngatawi Al-Zastrouw
Penulis adalah Seorang Budayawan dan Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia


DIPERLUKAN waktu sekitar 20 sampai 30 menit dari pohon sukun bersejarah tempat Bung Karno merenung untuk sampai di lokasi Pesantren Walisanga. Lokasinya agak di pinggir kota, berada di lereng bukit dengan jalan sempit dan berliku, bahkan di beberapa ruas masih berupa jalan tanah belum diaspal.

Saya membayangkan kalau musim hujan jalan itu akan sulit dilewati karena berlumpur. Bangunan pesantren yang terletak di bawah kaki gunung Meja di Kecamatan Ende Selatan ini sudah lumayan bagus, ruang kelas dan asrama sudah tergolong layak. Suasana alam yang indah dengan latar belakang panorama gunung Meja yang menawan, membuat pesantren ini semakin menarik.

Kami datang disambut hangat oleh seluruh santri dan pengasuh. Setelah dijamu makan siang, kami disuguhi tarian yang dimainkan oleh para santri. Mereka menampilkan tarian yang baru saja diajarkan oleh mbak Wina, salah seorang anggota tim BPIP yang kebetulan pelatih tari.


Setelah itu kami berdialog dengan pengasuh dan para santri. Kami menggali pengalaman hidup dan praktek berpancasila yang dilakukan oleh para santri dan pengasuh pesantren.

Pendirian Pesantren Walisanga Ende dirintis oleh KH. Mahmud Eka, seorang pengamal thareqat Qadiriyah-Naqsabandiyan. Beliau merintis pesentren ini bersama sahabatnya yang kebetulan ayah kandung budayawan Taufiq Rahzen.

Diceritakan oleh bu Nyai Halimah, salah seorang putri alm. Mahmud Eka yang sekarang menjadi pimpinan pesantren, ada berbagai hambatan saat merintis berdirinya pesantren ini.

Dengan perasaan haru bu Nyai Halimah mencertakan bagaimana ayahnya, KH. Mahmud Eka mendapat fitanah keji sampai acaman fisik saat merintis berdirinya pesantren yang mengajarkan Islam yang damai dan moderat. Pernah difitnah memakan uang yayasan, dituduh menjual agama sampai acaman fisik mau dibunuh dan disiksa.

"Karena tidak tahan menerima tekanan dan firnah, ibu dan anak-anak pernah meminta abah berhenti merintis pesantren" demikian bu nyai Halimah berceritaa pada kami.

"Tapi semua itu tak menyurutkan niat abah untuk terus berjuang merintis pendirian pesantren ini, hingga pelan-pelan akhirnya pesantren berkembang seperti sekarang ini" Tambahnya.

Dsebutkan oleh Nyai Halimah, meski banyak yang menentang, tapi banyak juga pihak yang mendukung pendirian pesantren ini, misalnya para pastor yang ada di biara Santo Yosef dan beberapa seminari.

Yang menarik dari pesantren Walisanga Ende ini adalah praktek hidup toleransi dan moderasi beragama. Di pesantren ini, moderasi dan toleransi tidak diajarkan sebagai pengetahuan atau norma-nomra tekstual, tetapi dipraktekkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan pater yang ikut membantu menjadi tenaga pengajar dan tinggal di pesantren.

Kami sempat bertemu dengan pater Pras, sebut saja namanya begitu, yang sudah bertugas di pesantren Walisanga selama hampir 1,5 tahun. Kepada kami peter Pras menjelaskan bahwa dia berasal dari seminari yang ada di Manggarai. Dia bertugas sejak 13 Juli 2019, menggantikan seniornya yang sudah menyelesaikan masa bakti pengabdian di pesantren ini.


Waktu pertama kali bertugas ke pesantren dia sempat shock, karena sama sekali belum bisa membayangkan situasi pesantren. Apalagi saat itu dunia medsos sangat serem menggambarkan kondisi pesantren.

"Info-info di medsos tentang pesatren yang saya baca di medsos membuat saya semakin shock" demikian dia bercerita pada kami.

"Ini terjadi karena para senior yang pernah bertugas di pesantren tidak memberi informasi apapun kepada kami. Bahkan menunjukan tempat pesantren inipun mereka tdak diperbolehkan. Kami harus cari sendiri dimana pesantren ini berada" kisahnya lebih lanjut.

"Tapi setelah kami berada di pesantren, semua bayangan dan ketakutan itu hilang. Para ustadz, pengasuh dan santri di sini menerima kami secara terbuka dan ramah. Kami diperlakukan secara baik, tak ada sekat apalagi perbedaan, di sini kami sudah seperti saudara" demikian Fater Pras menceritakan pengalamannya.

Di pesantren ini Pater Pras melatih kesenian, terutama musik dan vocal. Selain itu dia juga mengajari berbagai ketrampilan, seperti beternak lele, bertani sapai membatik dan menenun. Berbagai kegiatan ketrampilan ini sangat bermanfaat, tidak hanya meningkatkan soft skill para santri tetapi juga bisa menopang ekonomi pesantren.

Misalnya, selama pandemi Covid-19 yang menurunkan pendapatan pesantren dari donatur, maka hasil beternak lele dan beberapa produk kerajinan pesantren bisa menjadi penopang kebutuhan santri.

Para pater yang bertugas di pesantren Walisanga ini tidak hanya membantu pendidikan untuk peningkatan skill dan pengetahuan para santri, tetapi juga di bidang spiritual dan ritual. Misalnya, para pater ini juga bertugas membangunkan para santri untuk shalat tahajut dan shalat subuh. Menyediakan air wudlu dan kebutuhan ibadah lainnya.

"Saat para santri shalat, kadang kami melakukan ibadah di kamar atau di serambi pesatren dekat masjid" demikian pater Pras bercerita dengan senyum bahagia.

Secara fisik dan tampilan tak ada perbedaan antara para pengasuh dan santri dengan pater. Penulis sendiri tidak mengenali mana pater dan mana santri, sehingga sempat bertanya pada pengasuh mana pater yang ikut mengajar di pesantren. Kemudian berdirilah sosok yang pakai gamis putrih, menggunakan iket kepala batik. Tampilannya sudah seperti kyai dan ustadz, kemudian memperkenalkan diri sebagai pater.

Selanjutnya bu Nyai Halimah menjelaskan bahwa pesantren ini sering kekurangan logistik, maklum hampir semua santri yang ada di pesantren Walisanga ini adalah gratis, hanya beberapa orang yang mampu saja yang membayar, itupun tidak seberapa jumlahnya, karena mayoritas santri dari kalangan bawah.

"Kami sering pusing dan sedih ketika cadangan logistik menipis dan belum ada kiriman dari donatur. Pada saat seperti ini saya hanya bisa berdo'a dan memohon kepada Allah untuk membukakan pintu rejeki" cerita bu Haiman sambil menahan air mata.

"Pada saat seperti itu, seringkali tiba-tiba datang kiriman beras dan kebutuhan lain dari seminari, biara Santo Yosef dan gereja untuk para santri", kisahnya dengan suara yang makin serak menahan haru.

Ada kisah menarik dari bu Nyai Halimah, banyak orang tua santri yang selama anaknya mondok dipesantren belum pernah sekalipun datang ke pondok menemui pengasuh. Dia sering sedih saat melepas santri yang telah lulus tapi orang tuanya belum pernah sekalipun datang ke pondok.

"Jangankan ucapan terima kasih, datang ke pondok sekalipun belum pernah. Tapi saya maklum, karena untuk datang ke sini diperlukan biaya, sedangkan mereka rata-rata dari keluarga tidak mampu" Demikian Nyai Halimah menuturkan.

Ketika ditanya, bagaimana para santri bisa sampai ke pesantren sementara orang tua mereka tidak pernah mengantarkan apalagi menyerahkan ke pihak pesantren? Menurut bu Nyai Halimah, para santri yang tidak diantar orang tuanya itu biasanya datang diantar teman yang pernah nyantri di pesantren ini, atau teman yang tahu pesantren ini. Santri yang seperti inilah yang biasanya tidak pernah dikunjungi orang tuanya sampai mereka lulus.

Selain menanamkan toleransi dan moderasi beragama, pesantren Walisanga ini juga menjadi contoh kepemimpinan perempuan di kalangan pesantren. Sebenarnya ada beberapa saudara lelaki yang secara keilmuan layak memimpin pesantren, karena mereka jebolan pesantren terkenal di Jawa, seperti pesantren Ploso Kediri, Liboyo, Gontor dan lain-lain.

"Tapi entah mengapa saudara saya yang lelaki tidak ada yang kuat memimpin pesantren ini, sehingga akhirnya saya yang perempuan, dan kebetulan bukan alumni pesantren, harus meneruskan perjuangan orang tua mengelola pesantren ini" demikian bu nyai Haimah mengisahkan.

"Meski hanya dengan kemamapuan apa adanya, tapi alhamdulillah pesantren bisa berkembang seperti ini. Saya cukup bersyukur dengan keadaan ini" lanjutnya

Secara fisik, bangunan pesantren ini memang sudah cukup lumayan. Ada gedung sekolah permanen, dua unit bangunan rusunawa empat lantai untuk asrama santri, masjid dan perpustakaan. Bahkan di pesantren ini ada museum Pancasila yang menyimpan beberapa benda, buku dan naskah yang terkait dengan Pancasila. Keberadaan museum Pancasila ini atas prakarsa dan sumbangan dari budayawan Taufiq Rahzen.

Terus terang saya merasa kagum pada pesantren ini, yang mampu menanamkan nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama sejak dini melalui laku hidup. Pesantren ini mampu menempatkan aspek teologis dan sosiologis beragama secara tepat.

Di pesantren ini aspek teologis beragama ditempatkan dalam ruang batin setiap individu, yang dijaga dan dirawat secara baik oleh masing-masing individu. Sedangkan aspek sosial ditempatkan di ruang publik yang bisa dinikmati secara bersama-sama sebagai ekspresi dan manifestasi spirit teologis dari masing-masing pemeluk agama.

Dengan cara ini tidak terjadi benturan teologis dari penganut agama yang berbeda dalam ruang sosial.

Pesantren Walisanga Ende telah mengajarkan bangsa ini bagaimana menjaga toleransi dan moderasi bergama secara indah, karena nilai-nilai itu ditanamkan sejak dini dengan cara-cara yang indah dan beradab. Di pesantren ini kami melihat Pancasila begitu indah dan nyata. (Besambung)



Para Inspirator Penggalian Pancasila di Ende , Catatan Anjangsana Pancasila oleh BPIP ke NTT - Bali #7

Para Inspirator Penggalian Pancasila di Ende
Catatan Anjangsana Pancasila oleh BPIP ke NTT - Bali #7

Para Inspirator Penggalian Pancasila di Ende

Oleh: Ngatawi Al-Zastrouw
Penulis adalah Seorang Budayawan dan Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia


WAKTU sudah menunjukan jam 13.00 kami segera meninggalkan rumah pengasingan Bung Karno menuju Biara Santo Yosef Ende, tempat bersejarah yang memiliki peran penting dalam proses penggalian Pancasila.

Tiba di biara kami disambut hangat oleh Peter Henri Darosj, salah seorang pengelola Biara. bangunan biara ini berada di puncak bukit kecil dengan suasana yang teduh dan nyaman. Ada 45 tangga untuk bisa mencapai bangunan tersebut.

Di ujung tangga Peter Darosj menyapa kami dengan ramah, sambil berdiri dia menjelaskan bahwa dahulu Bung Karno selalu melawati tangga ini ketika mengunjungi Biara Santo Yosef. Dan biasanya di tempat ini pula Soekarno disambut para pastor yang menjadi sahabatnya.


Rombongan diajak keliling melihat beberapa tempat yang ada di kompleks biara yang sering ditempati Bung Karno, seperti serambi tempat Bung Karno duduk merenung memandang laut (sekarang tempat ini diberi nama Serambi Bung Karno. Di sini dibangun patung Bung Karno dalam keadaan duduk di kursi menghadap ke laut), ruang baca Bung Karno dengan beberapa koleksi buku yang sering di baca, ruangan tempat ngobrol dan berdiskusi dengan para pastor.

Setelah berkeliling melihat tempat bersejarah di Biara Santo Yosef, kami berkumpul di serambi untuk mendengarkan penjelasan Pater Henri Darosj. Banyak hal menarik dan data-data sejarah penting yang disebutkan oleh Peter Henri.

Beberapa hal menarik yang sempat penulis catat diantaranya penjelasan Pater Henri mengenai kedekatan Soekarno dengan para Pastor dan Bruder yang ada di Biara Santo Yosef Ende. Disini Bung Karno berkesempatan mengenal lebih dalam agama Katolik dan menggali nilai-nilai kemanusiaan dengan bertukarpikiran dengan para Pastor, terutama Pater Hujtink dan Pater Bouma.

Oleh kedua pastor ini Bung Karno diberi akses seluas-luasnya untuk membaca seluruh koleksi buku yang ada di perpstakaan Biara. Bisa dikatakan Bung Karno merupakan tamu tetap kedua pastor tersebut, sehingga menjadi sahabat akrab sampai akhir hayat.

Pertemuan Bung Karno dengan para Pastor di biara Santo Yosef merupakan pengobat dahaga intelektual Bung Karno selama berada di pengasingan.

Hari-hari pertama di pengasingan mengalami stress. Disebutkan Henri Darosj, Bung Karno mengibaratkan dirinya seperti seekor brung elang yang sudah terpotong sayapnya. Seekor burung perkasa yang kini tidak berdaya. Semangat yang luruh ini kembali bangkit ketika menemukan sumber pengetahuan dan teman bertukar pikiran di biara Santo Yusuf. Di tempat ini Soekarno membaca tiga buku Ensiklij yang berisi tentang peri kemanusiaan, kesetaraan dan buruh

Dalam kesempatan ini Peter Handri banyak mengungkap kisah menarik hubungan Bung Karno dan kedua pastor tersebut, mulai dari sisi intelektual, kemanusiaan sampai mistis.Diantaranya ramalan Pastor Huijtink bahwa Soekarno akan jadi presiden. Mengingat peran penting biara Sato Yusuf dalam kehidupan dirinya, saat menerima anugrah Doktor Honoris Causa Soekarno pernah menyebut diriya berhutang budi pada Santo Yosef Ende.

Selanjutnya, Peter Hendri menjelaskan peran para Pastor dalam mendukung gerakan kebudayaan Bung Karno. Dijelaskan, ketika Soekarno kebingungan untuk mencari tempat pementasan drama tonilnya, maka Pater Huijtink bersedia membantu Bung Karno dengan menyediakan gedung Immaculata yang merupakan gedung paroki katedral untuk tepat pentas.

Di tempat inilah seluruh naskah tonil Bung Karno yang berjumlah 13 naskah bisa dimainkan. Judul naskah-nasah tersebut adalah Dokter Setan, Rendo, Rahasia, Kelimutu, Jula Gubi,Kut Kubi, Anak Haram Jadah, Maha Iblis, Aero Dinamit, Nggera Ende, Amoek, Rahasia Kelimutu II, Sang Hai Rumba, dan 1945.

Para pastor ini tidak hanya meminjami gedung Immaculata menjadi tempat pentas tetapi juga menyediakan perlengkapan produksi lainnya, seperti kursi, listrik sampai cat untuk untuk mewarnai layar sandwara. Bahkan percetakan untuk mencetak tiket pertunjukan dicetak di percetakan Arnoldus, milik para pastor dan bruder Serikat Sabda Allah (SVD), satu-satunya percetakan yang ada di Ende dengan paralatan yang paling canggih pada saat itu.

Selain bercerita tentang hubungan para Pastor Biara Santo Yosef dengan Bung Karno dan perannya mendukung gerakan dan pemikiran Bung Karno, Pater Henri bercerita tentang peran seseorang maupun masyarakat dalam proses penggalin Pancasila di Ende.

Salah satunya adalah cerita Henri tentang seorang Tiong Hoa bernama Ang Hoo Lian. Dia adalah seorang pedagang yang selalu berlayar dari Surabaya-Ende. Melalui saudagar Cina inilah Soekarno berkomunkasi dengana teman-teman seperjuangannya di Jawa. Sekarno tidak pernah kirim surat melalui pos, terutama surat-surat yang sifatnya khusus karena khawatir disensor oleh pihak Belanda.

Untuk menghindari kecurigaan bihak Belanda, surat-surat itu dimasukkan ke dalam keranjang sayur.

"Di ende, surat-surat tersebut diserahkan kepada Sian Tik, pemilik toko De Leeuw untuk selanjutnya dibawa oleh Ang Hoo Lian. Di waktu sore Bung Karno sengaja datang bertamu ke toko tersebut untuk mengambil surat-surat dari para temannya di Jawa sekaligus mengantar surat yang telah ditulisnya utuk dikirim ke Jawa. Sering kali surat-surat tersebut diantar oleh orang Tiong Hoa tersebut ke rumah Bung Karno secara sembunyi-sembunyi" demikian penjelasan Peter Henri.

Kelompok lain yang berjasa dalam membangun proses kreatif Bung Karno selama berada di pengasingan adalah para anggota dan pemain klub tonil Kelimutu, suatu kelompok sandiwara yang didirikan oleh Bung Karno di Ende.

Menurut paparan Peter Henri, jumlah anggota dan pemain klub tonil ini ada 47 orang, diantara adalah Joe Bara, Roslan Otto, Matheus dan Ibrahima, Darham dan Riwu. Para anggota klub ini terdiri dari rakyat biasa, ada nelayan, montir, pedagang dan petani. Mereka ini tidak saja beragam dari latar belakang sosial dan profesi, tetapi juga beragam keyakinan dan agama.

Para anggota klub tonil ini tidak sekedar menjadi pemaian sandiwara, tetapi merupakan komunitas yang memiliki peran penting dalam menumbuhkan proses kreatif Bung Karno selama berada di pengasingan.

Permainan sandiwara tonil tidak sekedar pertunjukan hiburan, tetapi menjadi mata rantai yang tak terpisahkan dari gerakan sosial dan pemikiran Bung Karno dalam menggali Pancasila.

Paparan Peter Hendri Darosj ini menunjukkan pada kita betapa banyaknya kelompok masyarakat yang turut andil dalam proses penggalian Pancasila ini. Mulai rakyat jelata, para pastur yang notabenenya orang asing bahkan saudagar Tiong Hoa, memiliki peran besar dalam perenungan Pancasila yang dilakukan Soekarno

Di Ende Soekarno tidak hanya menjadi orang yang matang berpikir, tetapi juga orang yang kuat beragama. Melalui perjumpaan dengan berbagai kalangan masyarakat inilah spirit religiusitas Bung Karno menjadi semakin dalam, lapang dan kokoh. Di sini Bung Karno semakin memantapkan gagasannya bahwa dalam pemahaman dirinya sebagai seorang Muslim tidak ada pertentangan antara Islam dan Nasionalisme.

Bahkan secara tegas Soekarno menyatakan bahwa Islam tidak bertentangan dengan Nasionalisme yang luhur. Jika ada pandangan yang mempertentangkan Islam dan Nasionalisme maka terjadi kesalahan dalam menafsirkan Islam. Islam hanya bertentangan dengan nasionalisme ketika nasionalisme itu bersifat sempit, yaitu nasionalisme yang membuat satu bangsa membenci bangsa yang lain atau memecah belah (provinsialisme) (Henri Darosj Dkk, 2015;71).

Banyaknya jejak sejarah tentang andil kelompok masyarat dalam proses penggalian Pancasila di kota Ende, mengkorfirmasi pernyataan Soekarno:

"Di kota ini (Ende) kutemukan lima butir mutiara dan di bawah pohon sukun aku menemukannya"

Penemuan lima mutiara ini terjadi karena Ende merupakan tempat pematangan diri dan pemikiran dengan cara memperluas pengetahuan dan memperdalam imannya terhadap Islam. Dan di sisi lain Bung Karno memperdalam dan memperluas pengetahuannya terhadap agama Kristen melalui pergaulannya dengan para Pastor.

Selain itu, di Ende ula Soekarno bertemu dengan masayrakat yang beragam sehingga memperkaya pengalaman batin dalam merawat keberagaman Nusantara.

Tak terasa lebih dua jam kami mendengarkan penjelasan Peter Henri yang menarik karena banyak informasi yang menurut kami baru dan otentik, seperti peran penting seorang saudagar Tiong Hoa dan para pemain klub sandiwara tonil.

Tapi kami harus meneruskan perjalanan mengunjungi pohon Sukun tempat Bung Karno merenung, sehingga menghasilkan lima butir mutirata yang kemdian disebut Pancasila. (Bersambung)