Senin, 01 Februari 2021

Interaksi Manusia dan Tuhan Dalam Adat Kepercayaan Marapu Sumba , Catatan Anjangsana Pancasila oleh BPIP ke NTT - Bali #2

Interaksi Manusia dan Tuhan Dalam Adat Kepercayaan Marapu Sumba
Catatan Anjangsana Pancasila oleh BPIP ke NTT - Bali #2

Interaksi Manusia dan Tuhan Dalam Adat Kepercayaan Marapu Sumba

Oleh: Ngatawi Al-Zastrouw
Penulis adalah Seorang Budayawan dan Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia


PERBINCANGAN kami, Tim BPIP, dengan tetua adat Marapu di Kampung Tarung semakin lengkap dengan kehadiran Rato Lado Regi Tera. Beliau adalah putra mama Rato yang didaulat menjadi Ketua adat Marapu.

Sebagai Ketua adat dia berhak mengambil keputusan yang terkait dengan adat seperti menentukan waktu upacara, waktu bangun rumah, waktu tanam dan memimpin upacara adat dan ritual kematian.

Sambil duduk santai di beranda rumah adat, Bapa Rato menjelaskan berbagai macam prosedur upacara adat kematian dan perkawinan. Dalam adat Marapu orang yang mati tidak di kubur dalam posisi rebah, tetapi dimasukkana ke dalam lubang batu yang dibentuk seperti sumur dalam posisi duduk dengan kedua kaki menekuk dan kedua tangan merangkul lutut seperti posisi bayi yang ada dalam kandungan.


Dilihat dari penjelasan serta benda-benda ritual yang ada, terlihat bahwa kepercayaan Marapu bersumber dari pada zaman megalitik.


Menurut kajian antropologi kepercayaan masyarakat megalitik pada intinya meyakini bahwa roh leluhur yang sudah mati tidak pergi meninggalkan dunia secara total sehingga terputus hubungannya dengan alam dunia.


Orang yang mati hanya berpindah dari kehidupan dunia yang nyata ke alam lain. Upacara penguburan orang yang meninggal diyakini sebagai awal kelahiran nenek moyang di alam lain, oleh karena itu upacara penguburan menjadi momentum penting.

Menurut kepercayaan Marapu yang diajarkan secara turun temurun, para leluhur yang datang pertama kali ke Sumba sangat dihormati keturunanya hingga saat ini. Mereka menjadikan arwah para leluhur merupakan perantara untuk berkomunikasi kepada Tuhan. Mereka memuja arwah leluhur sebagai perantra memuja pada Tuhan.

Hal jelas kitakan oleh Bapa Rato, bahwa masyarakat Marapu adalah masyarakat yang percaya pada Tuhan sebagai Pencipta alam. Karena Tuhan adalah yang maha tinggi, maka manusia yang ada di dunia ini tidak akan mampu menggapai dan berkomunikasi denganNya secara langsung. Oleh karena itu diperlukan perantara, dan arwah para lelhur yang sudah meninggal inilah yang bisa menjadi perantara antara Tuhan dengan manusia yang ada di dunia.

Dalam konsep teologi masyarakat Sumba Tuhan, dikenal dengan istilah Hupu Ina-Hupu Ama (Ibu dan Bapa segala sesuatu). Tuhan dikonsepsikan sebagai kekuatan adikodrati yang berada di tempat jauh di atas. Selain itu juga konsep Marapu, yaitu penghubung antara Tuhan dan manusia.. Konsep Marapu inilah yang membuat kepercayaan adat di Sumba disebut dengan Marapu.

Menurut keyakinan masyarakat Sumba, sebelum para Marapu turun ke bumi, hubungan antara manusia dengan Tuhan, sebagai penguasa tertinggi, dapat dilakukan secara langsung. Namun ketika para Marapu memutuskan untuk tinggal di bumi, maka hubungan antara Tuhan dan manusia menjadi terputus.

Hubungan antara Tuhan dengan dengan manusia yang ada di alam dunia hanya dapat dilakukan melalui perantara arwah nenek moyang, yaitu para Marapu. Melalui Marapu inilah manusia dapat memohon pertolongan dan petunjuk kepada Hupu Ina-Hupu Ama. Demikian sebaliknya melalui Marapu pula Hupu Ina-Hupu Ama mengirimkan pesan atau jawaban atas permohonan dan petunjuk yang disampaikan manusia yang masih hidup di dunia.

Melihat peran dan fungsinya bisa dikatakan bahwa Marapu merupakan representasi keberadaan Tuhan (Hupu Ina-Hupu Ama) di alam dunia. Sebagai representasi atau wakil Tuhan di dunia, maka Marapu harus dipuja, karena dengan memuja Marapu maka Dia akan memberikan pertolongan, perlindungan dan keselamatan, kesuburan dan kebahagiaan. Demikian sebaliknya, jika jika Marapu tidak disembah maka akan menimbulkan malapetaka, bencana dan kesusahan serta hal-hal buruk lainnya.

Selain menjelaskan konsep teologi (ketuhanan) pembicaraan senja itu juga membahas kosmologi masyarakat Marapu. Dari penjelasan Bapa Rato telihat bahwa dalam kosmologi adat Marapu alam semesta ini terdiri dari tiga lapisan yaitu: lapisan atas (langit), lapisan tengah (bumi) dan lapisan bawah (bawah bumi).

Penguasa tertinggi dari seluruh alam disebut Anatala yang disebut juga Hupu Ina dan Hupu Ama (Ibu Bapa segala sesuatu) yang tinggal di langit. Dalam konsepsi kepercayaan Marapu, langit terdiri dari delapan petala (lapis) yang berbentuk kerucut. Lapis pertama disebut Awanggu Walu Ndani ( lapis langitkedelapan ) yang disebut dengan Hupu Ina-Hupu Ama yang tinggal bersama para Marapu.

Berdasarkan penjelasan dari Rato Lado, kepercayaan merupakan sistem keyakinan yang berdasarkan kepada arwah para leluhur, hal-hal yang bersifat supra natural dan kekuatan gaib lainnya. Kepercayaan inilah yang membuat Suku Marapu memuja arwah para leluhur melalui berbagai ritus dan upacara adat. Ritual pemujaan ini memiliki keterkiatan dengan kehidupan sehari-hari, seperti dalam berinteraksi dengan alam yang melahirkan tata cara bertani dan menjaga hutan. Semua ada hitungan dan mekanismenya.

Selain upacara kematian, menurut penjelasan Roto, ada dua pacara adat yang utama dari kepercayaan Marapu yaitu Wulla Poddhu dan Pasola. Wulla Poddhu adalah upacara adat yang dilaksanakan pada bulan Suci penurut penanggalan Marapu. Selama bulan ini terdapat sejunlah larangan yang harus dipatuhi. Selama Wulla Poddhu tidak boleh membangun dan memperbaiki rumah, dilarang berhubungan badan dengan pasangan, bahkan jika ada yang meninggal sekalipun dilarang memukul gong dan menangisi.

Selama Wulla Poddhu, penganut Marapu wajib berpuasa dengan tidak memakan daging babi dan anjing. Selama berpuasa mereka hanya boleh memakan sayur dan daging ayam serta nasi selama sebulan penuh.

Sedangkan upacara Pasola adalah upacara adat untuk perdamaian. Upacara ini diwujudkan dalam bentuk perang adat. Saat upacara Pasola digelar, masing-masing suku akan berperang menggunakan kuda dan lembing kayu. Mereka saling berhadapan untuk saling menyerang dengan melempar lembing.

Meski terlihat menyeramkan, namun upacara Pasola ini justru menjadi momen perekat hubungan persaudaraan masyarakat Marapu. Ritual ini biasanya dilaksanakan saat awal musim tanam tiba.

Ketika di tanya mengenai bagaimana para tetua adat menjaga eksistensi dan kelestarian adat Marapu, mereka menjelaskan bahwa kepercayaan Marapu tidak memiliki huruf, oleh karenanya seluruh ajaran dan sistem keyakinan disampaikan melalui tutur (verbal) secara turun temurun.

Menurut Bapa Rato, ada beberapa kecerdasan lokal (local genius) yang dimiliki oleh komunitas adat Marapu yang selama ini disampikan secara turun temurun melalui cerita tutur, misalnya pengetahuan arsitektur rumah, pengetahuan sistem pertanian, pentehuan tentang cuaca (klimatologi), ilmu tanaman (botani) dan sebagainya.

"Sebenarnya jika pendidikan di sekolah menghendaki kami bisa menyediakan para tetua adat yang menguasai bidang keilmuan tersebut untuk mengajarkan ilmu-ilmu tersebut kepada para siswa" demikian penjelasan Bapa Rato kepada kami.

Sayangnya lembaga pendidikan formal yang ada belum mengakomodir niat baik tetua adat tersebut. Padahal menurut Undang-Undang no 5 tahun 2017 tentang pemajauan budaya, sebenarnya hal ini sangat dimungkinkan.

Setelah menerima penjelasan tentang sistem kepercayaan, pandangan kosmologi dan ritual adat Marapu, kami diperkenankan masuk ke dalam rumah adat. Bagi masyarakat Marapu rumah sekedar tempat bertenduh dan berkumpul keluarga, tetapi juga memiliki makna filosofis tentang siklus kehidupan dan relasi dengan alam. Hal ini terlihat dari pembagian dan fungsi ruang, posisi tiang dan bentuk bangunan yang kesemuanya mengandung makna.

Setelah melihat isi rumah, kami dan rombongan melihat batu pemakaman yang ada di pelataran di depan rumah adat. Semua kami mengira batu-batu yang mirip bilik-bilik kecil itu adalah sumur atau lumbung. Tapi ternyata batu itu adalah makam tempat menyimpan mayat orang yang sudah meninggal.

Batu itu ditutup dengan benatu besar berukuran sekitar 2M x 2M dengan tebal sekitar 10 sd 15 cm, dan berat ratusan kilo gram. Ada belasan batu makam di sekitar rumah adat Marapu di kampung tarung. Untuk membuka batu penutup diperlukan puluhan orang, dan membuka pintu batu makam merupakan bagian dari ritual pemakaman yang banyak menarik perhatian publik.

Waktu sudah semakin malam, suasana sekain gelap. Meskipun suasana terang bulan namun cuaca mendung yang menggelayut malam itu membuat kami tidak bisa menikmati terang bulan dengan baik. Sehingga kami terpaksa menggunakan lentera handpone untuk bisa melihat batu-batu makam berserakan diantara bangunan rumah adat Marapu di kampung Tarung.

Setelah beberapa saat melihat-lihat suasana kamung terung melalui temaram cahaya rembulan yang ada di celah-celah mendung, kami meneruskan perjalanan kembali ke hote untuk istirahat. Kami bersyukur malam itu bisa mereguk pengetahuan dari mata air kebudayaan yang jernih. (bersambung)



Penjaga Adat Marapu , Catatan Anjangsana Pancasila oleh BPIP ke NTT - Bali #1

Penjaga Adat Marapu
Catatan Anjangsana Pancasila oleh BPIP ke NTT - Bali #1

Penjaga Adat Marapu

Oleh: Ngatawi Al-Zastrouw
Penulis adalah Seorang Budayawan dan Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia

Pengantar:
Tanggal 20 sd 24 November dan 28 Noveember s/d 1 Desember, penulis mengikuti anjangsana Pancasila yang diselenggarakan Oleh BPIP. Suatu program penggalian nilai-nilai kearifan untuk merumuskan strategi pembudayaan Pancasila. Kunjungan dilakukan di Sumba, Ende dan Bali. Tulisan berseri yang akan diturunkan diportal ini merupakan catatan perjalan anjangsa Pancasila tersebut.


PEREMPUAN tua itu menyambut kami, rombongan dari BPIP, di beranda rumah adat Marapu di kampung Tarung, Sumba Barat, NTT. Temaram senja dengan sisa-sisa sinar mentari yang hampir padam itu membuat suasana semakin syahdu.


Guratan-guratan di wajah perempuan itu seperti memandakan usia yang renta, perkiraan kami sudah di atas 70 tahun, tapi sorot mata yang tajam dan suara yang lantang dengan bahasa yang tegas dan diksi yang kuat menunjukkan bahwa perempuan ini adalah sosok yang cerdas, tangguh dan pemberani namunsarat dengan kearifan.

Dia adalah mama Rato, sering disebut juga Mama Lado, seorang Tetua adat Marapu. Meski usianya sudah tidak lagi muda namun memori dan pemikirannya masih kuat dan jernih. Dia bisa menjelaskan berbaga peristiwa masa lalu dan ajaran kepercayaan Marapu dengan tuntut dan jelas. Hampir seluruh pertanyaan kami bisa dijawab dengan runtut dan sistematis

Kepada kami mama Rato menjelaskan, bahwa adat Kepercayaan Marapu tidak memiliki huruf dan kitab, dia hanya ajaran dan nilai yang dwariskan secara turun temurun melalui cerita tutur dan diekspresikan melalui laku hidup

Meskipun tidak memiliki huruf, namun masyarakat Marapu memiliki kemampuan membaca alam dan kehidupan, membuat perhtungan cuaca bahkan memprediksi kehidupan yang akan terjadi.

Selain itu, asyarakat Marapu juga memiliki kemampuan mendiagnosis dan mengobati penyakit, membuat perhitungan dalam mendirikan bangunan, mengatur musim tanam.

Berbagai kemampuan ini diperoleh dari hasil dialektika dan pengamatan yang mendalam terhadap alama dan lingkungan. Selain itu, untuk meningkatkan kepekaan batiniah dalam berdialog dengan alam dan kenyataan, mereka juga melakukan berbagai laku spiritual.

Hasil pengamatan inderawi terhadap alam yang bersifat fisik dan empirik ini dicatat dalam memori kemudian dikonstruksi dalam suatu konsep pengetahuan yang kita kenal dengan kecerdasan lokal (local genius). Sedangkan laku spiritual yang menghasilkan kepekaan batin melahirkan kekuatan spiritual yang mampu menembus dimensi ruang dan waktu yang kemudian dikenal dengan kebijakan lokal (local wisdom).

Pertautan antara kecerdasan lokal yang bersifat rasional, material dan faktual yang terekspresi dalam local genius dengan kekuatan spirtual yang abstrak, irrasional dan immaterial yang tercermin dalam local wisdom inilah yang menjadi konstruksi sosial-budaya masyarakat adat Marapu, sebagaimana layaknya masyarakat adat lainnya di Nusantara.

Sebagai masyarakat adat yang menggunakan tradisi dan cerita tutur dalam mentranfsformasikan nilai dan ajaran, masyarakat Marapu menghadapi tantangan modernitas, khususnya yang terkait dengan dengan persoalan birokrasi kenegaraan. Karena tidak bisa membaca dan menulis sebagaiamana standar masyarakat modern, maka masyarakat Marapu dianggap sebagai komunutas yang terbelakang, buta huruf dan tidak berbudaya, meskipun sebenarnya mereka memiliki kebudayaan, seperti terlihat dalam konstruksi adat dan tradisi yang kokoh. Akibatnya mereka dipandang secara pejoratif dan mengalami marginalisasi karena dianggap tidak bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan zaman.

Ada kisah menarik namun tragis yang kisahkan oleh Mama Rato terkait dengan persoalan birokrasi negara. Suatu saat anaknya pulang sekolah sambil menangis karena diusir oleh gurunya. Dia ditolak masuk sekolah karena dianggap tidak mememenuhi persyaratan administratif, yaitu akte kelahiran. Saat mengurus akta kelahiran, sang orang tua harus menunjukkan akta nikah resmi yang diakui negara.

Karena masyarakat Marapu menikah secara adat, maka mereka tidak memiliki akta nikah yang diakui negara, akibatnya sang anak tidak bisa urus akta kelahiran dan ditolak masuk sekolah. Atas kejadian ini, mama Rato datang ke sekolah dan mengancam guru yang telah mengeluarkan anak yang mau sekolah, sehingga terjadi keributan yang memancing pejabat terkait untuk turun tangan. Akhirnya terjadi proses dialog dan muncul kebijakan yang memperbolehkan anak-anak bisa sekolah tanpa dituntut persyaratan dokumen.

"Kalau mereka mau bikin kita pinter sesuai dengan tata cara mereka, dengan mengajari kami membaca dan menulis kami bisa menerima, tapi ketika mereka mau mengubah tatanan kami, menolak dan tidak mengakui adat kami maka kami tidak bisa terima" demikian tutur mama Ratu dengan suara lantang dan tegas. Kami bisa memahami kemarahan mama Ratu atas penolakan status anak yang menikah secara adat, karena itu sama saja negara mengabaikan norma, nilai dan adat masyarakat Marapu.

Bagaimanapun, perkawinan adat masyarakat Marapu adalah bentuk sah hubungan lelaki perempuan dalam ikatan suami istri. Dengan demikian anak yang dilahirkan juga sah secara adat karena sesuai dengan norma, etika dan nilai yang ada. Jika anak yang lahir dari perkawinan sah secara adat ini dianggap tidak sah oleh negara berarti negara telah memberangus dan menolak nilai-nilai dan norma adat tersebut

Sebagai pejuang dan penjaga adat Marapu, Mama Rato sudah beberapa kali dipanggil dialog ke berbagai forum, baik di tingkal lokal maupn nasional. Di forum-forum tersebut, mama Rato tampil sebagai narasumber atau memberikan testimoni.

"Berkali kali saya dialog dan bertanya dengan para pejabat negara dan pemimpin agama-agama. Mereka sering tidak bisa menjawab pertanyaan yang kami ajukan. Mereka juga menjanjikan berbagai kebijakan dan aturan yang membela kaum adat tapi prakteknya itu semua belum terlaksana dengan baik" Demikian mama Rato bersemangat.

"Kami tidak menuntut lebih dari bangsa ini, kami hanya mau hidup tentram dan damai, bisa menjalankan tradisi secara bebas tanpa dihambat dengan berbagai aturan birokrasi dan stigma negatif lainnya" Tandasnya dengan suara tajam dan tegas.

Apa yang diceritakan Mama Rato hanya secuil kisah terjadinya benturan antara adat dan sistem birokrasi negara. Hal seperti ini juga dialami oleh masyarakat Sunda Wiwitan dan komunitas adat lainnya. Eksisten dan hak-hak mereka sering terabaikan akibat benturan dengan sistem birokrasi yang ada. Jika terjadi hal seperti ini biasanya masyarakat adat mengalah, pastrah untuk tidak menerima hak-haknya sebagai warga negara demi menjaga dan menjalankan adat yang telah mereka yakini dan jalani. Misalnya saat penerimaan bantuan negara, mereka sering tidak kebagian karena tidak memiliki KTP atau dokumen lain yang dianggap sah. Padahal secara faktual, sosiologis-antropologis, mereka jelas-jelas warga negara Indonesia.

Melihat semangat perjuangan dan kegigihan Mama Rato dalam mempertahankan adat Marapu serta penguasaannya yang mendalam terhadap nilai-nilai, ajaran dan berbagai makna ada dalam ritual adat kami merasa beliau tidak sekedar juru bicara yang fasih dalam menjelaskan adat Marapu, tetapi juga seorang advokat tradisi yang andal dan gigih. Beliau adalah penjaga tradisi yang kokoh.

Hari mulai beranjak malam meninggalkan senja yang temaram, cuaca dingin mulai menerpa, namun suasana semakin hangat karena penjelasan mama Rato yang heroik. Dari sini aku belajar bagaimana seseorang bersikap menjaga eksistensi diri dan identitas kulturalnya.

Mama Rato telah menunjukkan pada kami sosok yang memiliki imunitas kultural (daya tahan kebudayaan) sehingga menolak berbagai "serangan" budaya dan ideologi lain yang datang untuk merusaknya. Dari mama Rato aku melihat sosok penjaga tradisi Marapu yang kokoh dan kuat (Bersambung).*****



Penjaga Adat Marapu , Catatan Anjangsana Pancasila oleh BPIP ke NTT - Bali #1

Penjaga Adat Marapu
Catatan Anjangsana Pancasila oleh BPIP ke NTT - Bali #1

Penjaga Adat Marapu

Oleh: Ngatawi Al-Zastrouw
Penulis adalah Seorang Budayawan dan Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia

Pengantar:
Tanggal 20 sd 24 November dan 28 Noveember s/d 1 Desember, penulis mengikuti anjangsana Pancasila yang diselenggarakan Oleh BPIP. Suatu program penggalian nilai-nilai kearifan untuk merumuskan strategi pembudayaan Pancasila. Kunjungan dilakukan di Sumba, Ende dan Bali. Tulisan berseri yang akan diturunkan diportal ini merupakan catatan perjalan anjangsa Pancasila tersebut.

PEREMPUAN tua itu menyambut kami, rombongan dari BPIP, di beranda rumah adat Marapu di kampung Tarung, Sumba Barat, NTT. Temaram senja dengan sisa-sisa sinar mentari yang hampir padam itu membuat suasana semakin syahdu.

Guratan-guratan di wajah perempuan itu seperti memandakan usia yang renta, perkiraan kami sudah di atas 70 tahun, tapi sorot mata yang tajam dan suara yang lantang dengan bahasa yang tegas dan diksi yang kuat menunjukkan bahwa perempuan ini adalah sosok yang cerdas, tangguh dan pemberani namunsarat dengan kearifan.

Dia adalah mama Rato, sering disebut juga Mama Lado, seorang Tetua adat Marapu. Meski usianya sudah tidak lagi muda namun memori dan pemikirannya masih kuat dan jernih. Dia bisa menjelaskan berbaga peristiwa masa lalu dan ajaran kepercayaan Marapu dengan tuntut dan jelas. Hampir seluruh pertanyaan kami bisa dijawab dengan runtut dan sistematis

Kepada kami mama Rato menjelaskan, bahwa adat Kepercayaan Marapu tidak memiliki huruf dan kitab, dia hanya ajaran dan nilai yang dwariskan secara turun temurun melalui cerita tutur dan diekspresikan melalui laku hidup

Meskipun tidak memiliki huruf, namun masyarakat Marapu memiliki kemampuan membaca alam dan kehidupan, membuat perhtungan cuaca bahkan memprediksi kehidupan yang akan terjadi.

Selain itu, asyarakat Marapu juga memiliki kemampuan mendiagnosis dan mengobati penyakit, membuat perhitungan dalam mendirikan bangunan, mengatur musim tanam.

Berbagai kemampuan ini diperoleh dari hasil dialektika dan pengamatan yang mendalam terhadap alama dan lingkungan. Selain itu, untuk meningkatkan kepekaan batiniah dalam berdialog dengan alam dan kenyataan, mereka juga melakukan berbagai laku spiritual.

Hasil pengamatan inderawi terhadap alam yang bersifat fisik dan empirik ini dicatat dalam memori kemudian dikonstruksi dalam suatu konsep pengetahuan yang kita kenal dengan kecerdasan lokal (local genius). Sedangkan laku spiritual yang menghasilkan kepekaan batin melahirkan kekuatan spiritual yang mampu menembus dimensi ruang dan waktu yang kemudian dikenal dengan kebijakan lokal (local wisdom).

Pertautan antara kecerdasan lokal yang bersifat rasional, material dan faktual yang terekspresi dalam local genius dengan kekuatan spirtual yang abstrak, irrasional dan immaterial yang tercermin dalam local wisdom inilah yang menjadi konstruksi sosial-budaya masyarakat adat Marapu, sebagaimana layaknya masyarakat adat lainnya di Nusantara.

Sebagai masyarakat adat yang menggunakan tradisi dan cerita tutur dalam mentranfsformasikan nilai dan ajaran, masyarakat Marapu menghadapi tantangan modernitas, khususnya yang terkait dengan dengan persoalan birokrasi kenegaraan. Karena tidak bisa membaca dan menulis sebagaiamana standar masyarakat modern, maka masyarakat Marapu dianggap sebagai komunutas yang terbelakang, buta huruf dan tidak berbudaya, meskipun sebenarnya mereka memiliki kebudayaan, seperti terlihat dalam konstruksi adat dan tradisi yang kokoh. Akibatnya mereka dipandang secara pejoratif dan mengalami marginalisasi karena dianggap tidak bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan dan perubahan zaman.

Ada kisah menarik namun tragis yang kisahkan oleh Mama Rato terkait dengan persoalan birokrasi negara. Suatu saat anaknya pulang sekolah sambil menangis karena diusir oleh gurunya. Dia ditolak masuk sekolah karena dianggap tidak mememenuhi persyaratan administratif, yaitu akte kelahiran. Saat mengurus akta kelahiran, sang orang tua harus menunjukkan akta nikah resmi yang diakui negara.

Karena masyarakat Marapu menikah secara adat, maka mereka tidak memiliki akta nikah yang diakui negara, akibatnya sang anak tidak bisa urus akta kelahiran dan ditolak masuk sekolah. Atas kejadian ini, mama Rato datang ke sekolah dan mengancam guru yang telah mengeluarkan anak yang mau sekolah, sehingga terjadi keributan yang memancing pejabat terkait untuk turun tangan. Akhirnya terjadi proses dialog dan muncul kebijakan yang memperbolehkan anak-anak bisa sekolah tanpa dituntut persyaratan dokumen.

"Kalau mereka mau bikin kita pinter sesuai dengan tata cara mereka, dengan mengajari kami membaca dan menulis kami bisa menerima, tapi ketika mereka mau mengubah tatanan kami, menolak dan tidak mengakui adat kami maka kami tidak bisa terima" demikian tutur mama Ratu dengan suara lantang dan tegas. Kami bisa memahami kemarahan mama Ratu atas penolakan status anak yang menikah secara adat, karena itu sama saja negara mengabaikan norma, nilai dan adat masyarakat Marapu.

Bagaimanapun, perkawinan adat masyarakat Marapu adalah bentuk sah hubungan lelaki perempuan dalam ikatan suami istri. Dengan demikian anak yang dilahirkan juga sah secara adat karena sesuai dengan norma, etika dan nilai yang ada. Jika anak yang lahir dari perkawinan sah secara adat ini dianggap tidak sah oleh negara berarti negara telah memberangus dan menolak nilai-nilai dan norma adat tersebut

Sebagai pejuang dan penjaga adat Marapu, Mama Rato sudah beberapa kali dipanggil dialog ke berbagai forum, baik di tingkal lokal maupn nasional. Di forum-forum tersebut, mama Rato tampil sebagai narasumber atau memberikan testimoni.

"Berkali kali saya dialog dan bertanya dengan para pejabat negara dan pemimpin agama-agama. Mereka sering tidak bisa menjawab pertanyaan yang kami ajukan. Mereka juga menjanjikan berbagai kebijakan dan aturan yang membela kaum adat tapi prakteknya itu semua belum terlaksana dengan baik" Demikian mama Rato bersemangat.

"Kami tidak menuntut lebih dari bangsa ini, kami hanya mau hidup tentram dan damai, bisa menjalankan tradisi secara bebas tanpa dihambat dengan berbagai aturan birokrasi dan stigma negatif lainnya" Tandasnya dengan suara tajam dan tegas.

Apa yang diceritakan Mama Rato hanya secuil kisah terjadinya benturan antara adat dan sistem birokrasi negara. Hal seperti ini juga dialami oleh masyarakat Sunda Wiwitan dan komunitas adat lainnya. Eksisten dan hak-hak mereka sering terabaikan akibat benturan dengan sistem birokrasi yang ada. Jika terjadi hal seperti ini biasanya masyarakat adat mengalah, pastrah untuk tidak menerima hak-haknya sebagai warga negara demi menjaga dan menjalankan adat yang telah mereka yakini dan jalani. Misalnya saat penerimaan bantuan negara, mereka sering tidak kebagian karena tidak memiliki KTP atau dokumen lain yang dianggap sah. Padahal secara faktual, sosiologis-antropologis, mereka jelas-jelas warga negara Indonesia.

Melihat semangat perjuangan dan kegigihan Mama Rato dalam mempertahankan adat Marapu serta penguasaannya yang mendalam terhadap nilai-nilai, ajaran dan berbagai makna ada dalam ritual adat kami merasa beliau tidak sekedar juru bicara yang fasih dalam menjelaskan adat Marapu, tetapi juga seorang advokat tradisi yang andal dan gigih. Beliau adalah penjaga tradisi yang kokoh.

Hari mulai beranjak malam meninggalkan senja yang temaram, cuaca dingin mulai menerpa, namun suasana semakin hangat karena penjelasan mama Rato yang heroik. Dari sini aku belajar bagaimana seseorang bersikap menjaga eksistensi diri dan identitas kulturalnya.

Mama Rato telah menunjukkan pada kami sosok yang memiliki imunitas kultural (daya tahan kebudayaan) sehingga menolak berbagai "serangan" budaya dan ideologi lain yang datang untuk merusaknya. Dari mama Rato aku melihat sosok penjaga tradisi Marapu yang kokoh dan kuat (Bersambung).*****

Rabu, 27 Januari 2021

China takes new foreign investment top spot from US

China takes new foreign investment top spot from US
by. Arum Kusumaningtyas

China has overtaken the US as top destination for foreign investment.

Andai kita mau hening dan merenung sejenak. Andai kita mau berpikir dan melihat ke dalam, membaca ulang NUSANTARA.

Bukan tentang aku dapat apa, berapa dan kapan. Tetapi bagaimana kita duduk bersama, bekerjasama, berkolaborasi dan mulai dari mana.

Peluang kebangkitan Indonesia itu jelas-jelas terpampang di depan mata dengan kanal yang terbuka lebar via Global Value Chain. The Great Bay Area China, proyek urbanisasi terbesar Pemerintah China dg Senczhen sebagai titik tumbuh cepatnya.  Menjadi pintu gerbang emas untuk Indonesia.

The Great Bay Area Project yang terus dipercepat pada tahun 2019.  Sehingga Lockdown Wuhan justru menunjukan kekuatan kanal riil yg telah berhasil China kembangkan via  Maritime Silk Road. 82% manufaktur dunia jalur produksinya ada di kota Wuhan ini. China dengan kebijakan panda nya melakukan 'surfing the wave of change'!

Jejak sejarahnya dapat ditarik hingga masa kejayaan Delta Sungai Brantas sebagai pusat ekonomi dan Laut Jawa Bagian Utara sebagai alur lautnya. Ada jejak makam seorang wanita muslim bernama Fatimah Binti Maiumun yg bertarikh 1082 di Gresik yang diperkirakan berasal dari wilayah The Great Bay Area ini. Banyak kota-kota perdagangan penting muncul di Nusantara: Ceumpa (Jeumpa, NAD), Malaka, Banyuasin, Plembang, Hitu (Jepara), Rembang, Lasem, Gresik, Tuban, Sumenep. Dimana semuanya menjadi kota dagang dan kota Agro Industri berbasis Beras di masanya. Sehingga membuat Kerajaan Mataram Hindu pada saat itu, telah menjadi eksportir beras dunia. Kerajaan kaya raya di Jawadwipa.

Jejaring runtuh 1421 karena perubahan Kekaisaran China dibawah Kaisar Zhu. Yg membuat wilayah Asia Tenggara membara...

Jalurnya tetap sama, caranya yg berubah total. Mau seperti Singhosari dan Majapahit yg hancur di era itu karena friksi dan 'kopong' di dalam karena egosentris dan perebutan kewilayahan internal kita sendiri. Atau saatnya kita merubah diri, bukan lagi eranya kompetisi. Berpikir panjang ke depan untuk keberlanjutan generasi yg berwarga negara 🇮🇩 secara utuh di Nusantara.

Tak heran semua kekuatan global kini perlu tagline PEMBERDAYAAN MSY & UKM untuk Nusantara. Jeli!!!



Senin, 25 Januari 2021

Hari Ini 36 Tahun Yang Lalu Borobudur di Bom

Hari Ini 36 Tahun Yang Lalu Borobudur di Bom
Harus masuk dalam buku pelajaran sejarah di sekolah

Inline image

23 Januari 2021 jam 08.42· 
Persis 36 tahun lalu,
Borobudur dibom oleh Abdul Kadir dan Husein bin Ali Alhabsy.
Mereka ditangkap Maret 1985.
Abdul kadir yang dihukum 20 tahun bebas tahun 1994.
Husein yang mendapat hukuman seumur hidup dibebaskan tahun 1999. Arak-arakan terjadi di kota Malang saat dia pulang.
Otak dibalik peristiwa itu masih belum ditemukan hingga saat ini.
Sejak melihat arak-arakan itu aku berjanji untuk menjaga budaya Nusantara dari ulah mereka.

Sabtu, 23 Januari 2021

Khofifah Jadi Viral Lagi Setelah Masuk Google Map Sebagai Nama Jalan

Khofifah Jadi Viral Lagi Setelah Masuk Google Map Sebagai Nama Jalan

Nama Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa muncul di google map. Namanya muncul sebagai nama salah satu jalan di Surabaya.
Setelah ramai dikabarkan memakai jasa buzzer atau pendengung agar menjadi viral, nama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kembali bisa menjadi viral karena muncul di google map sebagai nama salah satu jalan di Surabaya, meskipun di lokasi nama jalan Khofifah itu tidak ada.

Bisa menjadi viral karena nama Khofifah muncul ketika warganet mengetik alamat Masjid NU Al Hikmah yang berada di daerah Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya.

Di kolom alamat masjid tersebut tertulis Jalan Khofifah Indar Parawansa, Darmo, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya, Jawa Timur. Dengan kode pos 60241.

Namun media mendatangi lokasi, ternyata masjid tersebut berada di Jalan Dr Soetomo. Tetapnya di paling ujung atau titik putar balik Soetomo menuju Jalan Diponegoro. Masjid tersebut juga dekat dengan Pasar Pakis dan Gelora Pancasila.

Di sekitar situ juga tidak ditemukan plakat atau plang nama Jalan Khofifah Indar Parawansa. Lalu di banner panitia pembangunan masjid yang terpasang di dinding depan, juga tertulis alamat masjid di Jalan Dr Soetomo No 103 E, Kelurahan Darmo, Kecamatan Wonokromo.

Salah seorang Takmir Masjid Al Hikmah, Agus Darminto mengatakan, alamat resmi masjid berada di Jalan Dr Soetomo. "Ya dari dulu ya, Dr Soetomo 103 E. Alamatnya di spanduk itu ada. Sekolahan aja (di dekat masjid) ya Dr Soetomo kok," kata Agus, Sabtu (23/1/2021).

Agus menambahkan, alamat Masjid Al Hikmah yang di google map tidak benar. "Dari saya lahir, itu namanya jalan Dr Soetomo kok. Lha iya aneh-aneh saja dirubah,sehingga bisa viral" ujar Agus.

Agus pun minta agar hal ini segera diluruskan.



Kamis, 21 Januari 2021

Persatuan RS BUMN Serahkan Bantuan Kemanusiaan Pada Plt Gubernur Jatim

Persatuan RS BUMN Serahkan Bantuan Kemanusiaan Pada Plt Gubernur Jatim


Warga Jawa Timur kembali menunjukkan aksi kepedulian untuk korban bencana gempa Mamuju dan Mejene, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).

Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendapat bantuan kemanusiaan dari Persatuan Rumah Sakit BUMN Jawa Timur yang tergabung dalam Pertamina Bina Medika.
Bantuan yang diserahkan oleh Direktur Utama PT Pelindo Husada Citra (PHC), Abdul Rofid Fanany tersebut diterima langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jatim, Heru Tjahjono yang merupakan Plt Gubernur Jatim selama Gubernur Khofifah menjalani isolasi karena terpapar corona atau covid-19.

Mewakili Gubernur Khofifah Indar Parawansa, Heru mengungkapkan rasa terima kasih Pemprov Jatim atas kepedulian berbagai pihak akan bencana yang tengah melanda di Sulawesi Barat.

"Yang pertama adalah ucapan terima kasih saya mewakili Ibu Gubernur. Hal ini menunjukkan bahwa Pemprov Jatim selalu hadir di dalam merajut kebersamaan untuk membantu masyarakat Indonesia yang pada saat ini terkena bencana," ungkap Heru.

Menyampaikan arahan Gubernur Khofifah yang menyerahkan segala kewenangan dan pelaksanaan tugas kepada Sekdaprov selama Gubernur menjalani isolasi, Heru menyebut, bahwa bencana tahun ini adalah bencana yang multi complex, yaitu bencana dalam kondisi Covid-19.

Hal ini menyebabkan proses evakuasi yang dilakukan pun harus lebih selektif dari bencana alam sebelum-sebelumnya. Jika dahulu evakuasi bencana bisa dengan mudahnya dicampur, maka kali ini harus dilakukan pemilahan terhadap yang reaktif, negatif dan positif.

"Semoga bantuan ini bisa membantu saudara-saudara kita dan bencana alam ini bisa segera tertangani, bahkan tidak menjadi klaster baru dari perkembangan Covid-19," imbuhnya.

Sementara itu, total bantuan yang diterima Pemprov Jatim hari ini senilai Rp 300 juta yang terdiri atas 500 dos mie instan, 1.000 buah biskuit regal, 1.000 box teh celup, 400 box popok bayi, 500 kg gula pasir, 500 pack pembalut wanita, 500 set peralatan mandi dan 500 helai selimut.

Turut disampaikan pula, bahwa sebelumnya telah dikirimkan bantuan berupa obat-obatan senilai Rp 200 juta, satu buah ambulans serta 16 tenaga medis yang merupakan tenaga advance, yaitu dokter anastesi, dokter bedah orto, dokter umum dan perawat mahir.